Kamis 12 Muharrom 1446 - 18 Juli 2024
Indonesian

Menggabungkan Diantara Zikir Yang ada Dan Memvariasikannya

Pertanyaan

Pada beberapa waktu saya membaca kumpulan kitab-kitab tentang keutamaan istigfar (meminta ampunan) kemudian saya membaca kumpulan dari hadits-hadits tentang ‘"سبحان الله وبحمده” (Maha suci Allah dan segala puji bagi-Nya). Kalimat tersebut termasuk bacaan shalat seorang hamba, dan dengannya seorang hamba dikasih rizki. Kalimat tersebut termasuk perkataan yang paling dicintai oleh Allah. Saya juga membaca bahwa seorang hamba diharamkan rizki karena dosa dan istigfar dapat menghapus dosa-dosa. Oleh karena itu bacaan tersebut termasuk sebab-sebab mendapatkan rizki. Mana yang lebih utama memperbanyak istigfar atau mengucapkan "سبحان الله وبحمده ? Jika "سبحان الله وبحمده juga termasuk sebab diampuni dosa-dosanya.

Teks Jawaban

Alhamdulillah.

Pertama:

Keutamaan dan kemuliaan zikir  telah diketahui  secara pasti dalam agama Islam, cukuplah keutamaan zikir dan kemuliaannya bahwa Allah ta’ala akan mengingat hamba yang mengingat-Nya. Dimana Ibnu Qoyyim rahimahullah telah menyebutkan dalam kitabnya ‘Al-Wabilus -As-Soyyib Minal Kalim At-Toyyib’ lebih dari 100 keutamaan, kemudian banyak menghitung faedah-faedah itu serta membahasanya.

Kedua :

Yang dianjurkan dalam berzikir adalah membaca seluruh zikir dan jangan sibuk dengan yang lain dari zikirnya. Akan tetapi menyibukkan dengan semua zikir, agar mendapatkan keutamaan semua zikir yang Allah berikan pahalanya. An-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Selayaknya bagi orang yang telah sampai mendapatkan dari keutamaan suatu amalan hendaknya diamalkan meskipun hanya sekali, agar termasuk orang yang mengamalkan dan selayaknya jangan ditinggalkan semuanya. Bahkan kalau bisa melakukan yang mudah baginya.” (Al-Azkar hal. 8)

Ketiga;

Telah ada ketetapan bahwa "سبحان الله وبحمده adalah doa segala sesuatu. Dengannya seorang makhluk diberi rizki. Diriwayatkan Imam Ahmad, no. 6583 dari Abdullah bin Amr dari Nabi sallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ نُوحًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ قَالَ لِابْنِهِ : إِنِّي قَاصٌّ عَلَيْكَ الْوَصِيَّةَ : آمُرُكَ بِاثْنَتَيْنِ وَأَنْهَاكَ عَنْ اثْنَتَيْنِ : آمُرُكَ بِلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَإِنَّ السَّمَوَاتِ السَّبْعَ وَالْأَرْضِينَ السَّبْعَ لَوْ وُضِعَتْ فِي كِفَّةٍ وَوُضِعَتْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فِي كِفَّةٍ رَجَحَتْ بِهِنَّ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ، وَلَوْ أَنَّ السَّمَوَاتِ السَّبْعَ وَالْأَرْضِينَ السَّبْعَ كُنَّ حَلْقَةً مُبْهَمَةً قَصَمَتْهُنَّ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فَإِنَّهَا صَلَاةُ كُلِّ شَيْءٍ وَبِهَا يُرْزَقُ الْخَلْقُ ... (وصححه الألباني في "الصحيحة"، رقم 134)

Sesungguhnya Nabi Allah nuh sallallahu’alaih wa sallam ketika akan wafat mengatakan kepada anaknnya, ”Saya akan memberikan kepada kamu suatu wasiat, saya akan perintahkan kepadamu dua perkara dan melarang dua hal. Saya perintahkan kepadamu dengan lailaha illallahu, sesungguhnya tujuh langit dan tujuh bumi kalau sekiranya ditaruh di satu timbangan dan lailaha illallahu di timbangan lainnya, pasti akan lebih berat lailaha illallahu. Kalau langit tujuh dan tujuh bumi adalah makhluk yang tidak diketahui dipatahkan oleh laiaha illallahu. Dan سبحان الله وبحمده ia adalah shalat segala sesuatu dan dengannya seorang makhluk diberi rizki…  (Dishahihan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah, no. 134)

Sebagaimana telah ada ketetapan bahwa zikir ini termasuk perkataan yang paling dicintai oleh Allah. diriwayatkan oleh Muslim, (2731). Dari Abu Dzar berkata, Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

أَلاَ أُخْبِرُكَ بِأَحَبِّ الْكَلاَمِ إِلَى اللَّهِ  قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي بِأَحَبِّ الْكَلاَمِ إِلَى اللَّهِ ، فَقَالَ : إِنَّ أَحَبَّ الْكَلاَمِ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ  .

Apakah mau saya beritahukan kepadamu perkataan yang paling dicintai oleh Allah, saya berkata,”Wahai Rasulullah tolong beritahukan kepadaku perkataan yang paling dicintai oleh Allah. maka beliau bersabda, “Sesungguhnyaa perkataan yang paling dicintai oleh Allah adalah

سبحان الله وبحمده. (Segala puji bagi Allah dan segala pujian bagi-Nya).

Perkataan saudara penanya ‘Seorang hamba diharamkan rizki karena dosa dan istigfar dapat menghilangkan dosa-dosa, oleh karena hal itu termasuk diantara sebab-sebab (mendapatkan) rizki. Ada perkataan yang benar dari sisi maknanya, secara global. Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Allah ta’ala berfirman:

وَأَنْ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعاً حَسَناً إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ

Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya.” (QS. Hud: 3).

Allah berfirman tentang Nabi Hud:

وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلْ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَاراً وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ

Dan (dia berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa” (QS. Hud: 52).

Tidak diragukan lagi bahwa istigfar adalah sebab dihapusan dosa-dosa. Ketika dosa-dosa telah dihapuskan, maka akan mendapatkan dampaknya sehingga seseorang mendapatkan rizki, dan solusi dari semua kesulitan dan semua kegalauan.” Selesai dari ‘Fatawa nurun ‘Alad Darbi, (3/299) dengan penomoran Syamilah.

Sementara hadits:

وإن الرجل ليحرم الرزق بالذنب يصيبه

“Sesungguhnya seseorang itu terhalangi rizkinya karena dosa yang menimpanya. (Telah diriwayatkan oleh Ibnu Majah, (4022) dan dilemahkan oleh Al-Bany dalam kitab Dhoif Ibnu Majah).

Keempat:

Bukhori meriwayatkan, (6405) dan Muslim, (2691) dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu sesungguhnya Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ ، وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

Siapa yang mengucapkan ‘سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ  dalam sehari 100 kali, maka akan dihapuskan dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di lautan.”

Maka telah ada ketetapan bahwa zikir ini dapat menghapus dosa-dosa. Akan tetapi tidak dapat menggantikan posisi istighfar. Istigfar dalam konteks taubat dan meminta ampunan dan maaf dari Alla itu lebih mulia dari pada tasbih ini. Karena seorang hamba ketika beristigfar, ia menghadirkan dosa-dosa dan menghadirkan rasa takut kepada Allah, berprasangka baik kepada-Nya serta berharap ampunanan-Nya sehingga tasbih ini tidak mencukupi dari istigfar. Oleh karena itu ada riwayat dari Muslim, (484) dari Aisyah berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُكْثِرُ مِنْ قَوْلِ " سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ " قَالَتْ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَاكَ تُكْثِرُ مِنْ قَوْلِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ ، فَقَالَ  خَبَّرَنِي رَبِّى أَنِّى سَأَرَى عَلاَمَةً فِي أُمَّتِى فَإِذَا رَأَيْتُهَا أَكْثَرْتُ مِنْ قَوْلِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ ، فَقَدْ رَأَيْتُهَا (إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ ) فَتْحُ مَكَّةَ ( وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

“Dahulu Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam memperbanyak membaca :

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ

“Maha suci Allah, dan segala puji bagi-Nya saya memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.

Berkata (Aisyah), saya berkata, ”Wahai Rasulullah, saya melihat anda banyak membaca:

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ

“Maha suci Allah, dan segala puji bagi-Nya saya memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.

Maka beliau bersabda, ”Tuhanku memberitahukan kepadaku bahwa saya akan melihat tanda pada umatku, kalau saya melihatnya, maka saya akan memperbanyak bacaan:

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ

“Maha suci Allah, dan segala puji bagi-Nya saya memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.

Maka sungguh saya telah melihatnya pada ayat :

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan (QS. An-Nashr: 1).

Kemenangan (penaklukan) Mekkah

وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat (QS. An-Nasr: 2-3).

Maka dikumpulkan antara

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ

Maha suci Allah, dan segala puji bagi-Nya. Saya memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.  

Dan Istigfar. Hal itu menunjukkan bahwa tasbih tidak mengenyampingkan istighfar. Begitu juga istighfar tidak mengenyampingkan tasbih. Bahkan keduanya diharapkan pada seorang hamba. Kemudian terkadang sebagian lebih utama dari sebagian lainnya. Dan dalam satu kondisi ke kondisi lainnya.

Ibnu Qoyyim rahimahulah mengatakan,”Ini adalah bab yang bermanfaat membutuhkan fikih jiwa. Dan membedakan antara keutamaan sesuatu dalam dirinya. Dan antara keutamaan yang datang tiba-tiba. Maka diberikan setiap kebenaran pada porsinya.  Menaruh sesuatu pada tempatnya. Mata mempunyai tempat, kaki ada tempatnya, air ada tempatnya, dan daging juga ada tempatnya.  Dan menjaga urutan itu termasuk kesempurnaan hikmah dimana itu adalah aturan perintah dan larangan. Wallahu ta’ala al-Muwaffaq.

Begitu juga sabun dan lumut lebih bermanfaat untuk pakaian dalam satu waktu, dan minyak wangi serta air kembang juga bermanfaat baginya satu waktu.

Saya berkata kepada Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahuah suatu hari, “Ditanyakan kepada Sebagian ahli imu, mana yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba, apakah tasbih atau istigfar? Maka beliau menjawab,”Kalau bajunya itu bersih, maka bukhur (uap dari kayu gaharu) dan air kembang itu lebih bermanfaat untuknya. Kalau ada kotoran, maka sabun dan air panas itu yang lebih bermanfaat untuknya !!

Beliau rahimahullah mengatakan kepadaku, “Bagaimana sementara bajunya masih banyak kotorannya?” (Al-Wabil As-Soyyib, hal. 232-233).

Maksudnya bahwa seorang hamba tidak cukup dengan istigfar dalam salah satu kondisi. Wallahu a’lam.

Kemudian juga dia tidak cukup dengan tasbih dan tahmid, seperti yang telah disebutkan tadi,  menggabungkan di antara keduanya kemudian memilih apa yang sesuai dengan kondisinya pada sebagian waktu: ini termasuk fikih ubudiyah dan melakukan tertibnya suatu amalan.

Silahkan merujuk tentang keutamaan istighfar dalam jawaban soal no. (104919) dan untuk mengetahui teks istighfar, silahkan merujuk jawaban no. (39775) dan untuk mengetahui arti dari سبحان الله وبحمده silahkan merujuk jawaban soal no. (104047 ).

Wallahua’lam

Refrensi: Soal Jawab Tentang Islam