Ahad 13 Syawal 1440 - 16 Juni 2019
Indonesian

Berlindung Kepada Allah Dari Syetan Yang Terkutuk Pada Bulan Ramadhan

Pertanyaan

Jika syetan itu dibelenggu pada bulan Ramadhan, maka apakah menjadi penting ucapan: 

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

“Aku berlindung kepada Allah dari (godaan) syetan yang terkutuk”. 
Pada saat mau membaca Al Qur’an atau pada saat pikiran kotor itu muncul ?

Teks Jawaban

Alhamdulillah

Telah ditetapkan di dalam banyak hadits yang shahih bahwa syetan itu dibelenggu pada bulan Ramadhan.

Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu- berkata: “Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

 ‏ إِذَا دَخَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ فُتِحَتْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ ، وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ

رواه البخاري  1899   ، ومسلم  1079   .

“Jika bulan Ramadhan telah masuk, maka pintu-pintu langit dibuka, dan pintu-pintu jahannam ditutup, dan para syetan dibelenggu”. (HR. Bukhori: 1899 dan Muslim: 1079)

Pembelengguan tersebut tidak menjadikan kita tidak berlindung kepada Allah dari syetan yang terkutuk pada bulan Ramadhan, apalagi pada tempat-tempat yang memang Allah syari’atkan kepada kita agar berlindung kepada Allah dari godaannya, seperti halnya pada saat akan membaca Al Qur’an, masuk kamar mandi, dan lain sebagainya, hal ini karena dua hal:

  1. Hadits tersebut telah menetapkan pembelengguan syetan dan mereka dirantai pada bulan Ramadhan, akan tetapi tidak menyebutkan sama sekali bahwa mereka berhenti untuk menggoda.

Abu Al Walid Al Baji –rahimahullah- berkata:

“Ucapan beliau:   وصفدت الشياطين    memungkinkan untuk mengandung makna pertama, bahwa mereka benar-benar dibelenggu, dengan demikian maka mereka menjadi terhalang dari sebagian prilaku yang mereka tidak mampu melakukannya kecuali setelah dibebaskan, dalam hal ini tidak ada dalil yang menyatakan bahwa mereka terhalang dari prilakunya secara umum, karena kata Al Mushaffad adalah lehernya dibelenggu dengan tangannya, namun ia masih bisa berbicara, berpendapat dan banyak lagi usaha lainnya…”. (Al Muntaqa: 2/75)

Untuk penjelasan tambahan terkait dengan belenggu syetan ini bisa dirujuk pada fatwa nomor: 39736 dan 12653

  1. Berlindung dari syetan yang terkutuk adalah syari’at dan perintah (untuk membacanya) pada banyak tempat, di antaranya adalah pada saat syetan merayu dan mengganggu. Allah –Ta’ala- berfirman:

  وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

الأعراف /200

“Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al A’raf: 200)

Termasuk disyari’atkan membaca ta’awudz ketika ingin membaca Al Qur’an, Allah –Ta’ala- juga berfirman:

  فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

النحل /98

“Apabila kamu membaca Al Qur'an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk”. (QS. An Nahl: 98)

Hal ini berarti, bahwa berlindung kepada Allah dari godaan syetan adalah perkara ibadah yang masyru’, maka tidak sah kalau ada anggapan tidak ada manfaatnya pada waktu tertentu, kecuali ada nash secara tekstual yang mensyari’atkan amalan tersebut sejak awal, karena hal ini termasuk perkara ghaib yang tidak masuk dalam ranah akal, dan karena syari’at tidak memberikan pengecualian pada bulan Ramadhan dari keumuman perintah untuk berlindung kepada Allah dari syetan, maka tidak ada jalan untuk pengecualian hanya karena kesimpulan aqli, meskipun dengan membenarkan adanya pembelengguan syetan (dengan sebenarnya) selama bulan Ramdhan, karena semua itu berasal dari kabar syari’at dan perintahnya dan tidak ada pertentangan sedikitpun dari keduanya.

Kesimpulan:

Seorang muslim wajib untuk terus meminta perlindungan kepada Allah dari syetan yang terkutuk pada tempat-tempat yang telah disyari’atkan, dan tidak meninggalkan hal itu hanya karena pendapat yang ditampilan atau syubhat yang terbesit di dalam akalnya.

Wallahu A’lam

Refrensi: Soal Jawab Tentang Islam

Kirim Catatan