Kamis 20 Muharrom 1444 - 18 Agustus 2022
Indonesian

Dia Bertanya, “Apakah Dia Merasakan Apa Yang Terjadi Padanya Dan Pada Ruhnya Setelah Kematian?

Pertanyaan

Apakah saya bisa merasakan dialog malaikat yang membawa ruhku ke langit dan apa yang terjadi di bumi ketika saya dimandikan, dikafani dan dibawa ke kuburan?

Teks Jawaban

Alhamdulillah.

Pertama:

Masalah ini termasuk masalah goib dimana seorang muslim wajib menerimanya dan tidak perlu bertanya tentang bagaimana caranya. Karena kehidupan barzah tidak seorangpun yang mengetahui cara dan hakekatnya kecuali Allah.

Ruh adalah makhluk seperti makhluk lainnya. Dan yang mengetahui hakekatnya hanya Allah Azza wajalla semata. Allah simpan ilmunya sebagaimana yang ada dalam hadits dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahunahu berkata:

بَيْنَا أَنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَرْثٍ وَهُوَ مُتَّكِئٌ عَلَى عَسِيبٍ إِذْ مَرَّ الْيَهُودُ ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ : سَلُوهُ عَنِ الرُّوحِ ، فَقَالَ : مَا رَأْيُكُمْ إِلَيْهِ ؟ وَقَالَ بَعْضُهُمْ : لا يَسْتَقْبِلُكُمْ بِشَيْءٍ تَكْرَهُونَهُ . فَقَالُوا : سَلُوهُ ، فَسَأَلُوهُ عَنِ الرُّوحِ ، فَأَمْسَكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِمْ شَيْئًا ، فَعَلِمْتُ أَنَّهُ يُوحَى إِلَيْهِ ، فَقُمْتُ مَقَامِي فَلَمَّا نَزَلَ الْوَحْيُ قَالَ : ( وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلْ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ الْعِلْمِ إِلا قَلِيلا )   رواه البخاري .

“Ketika saya bersama Nabi sallallahu’alaihi wa sallam di kebun beliau dalam kondisi bersandar pada pohon ketika itu ada orang Yahudi lewat, sebagian mengatakan kepada sebagian lainnya,”Tanyakan kepadanya tentang ruh? Maka dia bertanya,”Apa pendapatmu tentangnya (ruh)? Sebagian mengatakan, “Tidak ada sesuatu yang datang yang menjadikan kamu tidak menyukainya. Mereka mengatakan,”Tanyakan kepadanya. Maka mereka menanyakannya tentang ruh. Nabi sallallahu’alaihi wa sallam terdiam tidak menjawab sedikitpun untuk mereka. Saya tahu beliau sedang mendapatkan wahyu. Maka saya berdiri dari tempatkua. Ketika selesai turun wahyu Allah berfirman:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلْ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ الْعِلْمِ إِلا قَلِيلا 

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” QS. Al-Isro’: 85. HR. Bukhori

Allah telah memberikan sifat dalam kitab-Nya dan Rasulullah sallallahu’alaihi wa salam dalam Sunnahnya tentang ruh dengan sejumlah sifat, diantaranya adalah menggengam dan mematikan. Bahwa ia memborgol dan dikafani serta datang dan pergi. Naik dan turun. Dan ia rontok seperti rambut yang menetes ke adonan. Maka seharusnya menetapkan sifat-sifat ini yang ada sesuai dalam dua wahyu, perlu diketahui bahwa ruh itu tidak seperti badan.

Syeikh Ibn uUtsaimin rahimahullah ditanya,”Sesungguhnya kematian seseorang adalah keluarnya ruh dari jasad, ketika dikuburkan dalam kuburan apakah ruhnya akan dikembalikan ke jasadnya atau kemana ia pergi? Kalau ruh di kembalikan ke jasadnya bagaimana hal itu terjadi?

Maka beliau menjawab, “Telah ada ketetapan dari Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bahwa mayit ketika telah meninggal dunia, maka ruhnya akan dikembalikan di kuburannya. Dan ditanya tentang Tuhannya, agamanya dan nabinya. Sementara Allah menetapkan orang-orang beriman dengan perkataan yang tetap dalam kehidupan dunia dan akhirat. Orang mukmin menjawab,”Tuhanku Allah, agamaku Islam dan nabiku adalah Muhammad. Sementara orang kafir dan munafik ketika ditanya dia menjawab,”Ha, ha saya tidak tahu. Saya mendengarkan orang mengatakan sesuatu maka saya ikut mengatakannya.

Pengembalian ini –maksudnya adalah mengembalikan ruh ke dalam badan di kuburan- bukan seperti ruh manusia mendapatkannya ketika di dunia. Karena ia termasuk kehidupan barzah, kita tidak tahu hakekatnya. Karena kita tidak dikasih tahu akan hakekatnya dalam kehidupan ini.

Semua perkara goib yang kita belum dikabarkan, maka yang harus kita lakukan adalah tawaquf (mencukupkan apa adanya) berdasarkan Firman Allah ta’ala:

 وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً  

 الاسراء: 36

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” QS. Al-Isro’: 36.

Selesai dari Fatawa Nurun’ Alad Darbi karangan Syekh Utsaimin, (4/2) dengan penomoran Syamilah.

Kedua:

Mayit tidak melihat jasadnya ketika dimandikan atau ketika dibawa ke kuburan. Karena ruh telah keluar darinya. Dan tidak akan dikembalikan lagi kecuali ketika dia di dalam kuburan waktu diuji.

Sementara tempat kembalinya ruh, kalau itu ruhnya orang mukmin ketika turun dari langit, maka akan dikembalikan ke jasadnya yang dahulu berada disana. Kemudian akan ditanyakan pemiliknya dalam kuburan. Maka Allah kuatkan ucapan dengan ucapan yang menetapkan. Dan akan dibentangkan kuburannya sejauh mata memandang.

Sementara kalau ruhnya orang kafir, maka para malaikat akan memberi kabar neraka dan kemurkaan Allah. kemudian ketika dinaikkan dalam kondisi hina, rendah dan ketakutan. Pintu-pintu langit tidak dibukakkan untuknya, kemudian dikembalikan ke jasadnya dan pemiliknya akan mendapatkan fitnah (ujian) dalam kuburannya dan dipersempit tempatnya. Dan panasnya neraka dan gerahnya akan mendatanginya.

Telah ada penjelasan terperinci akan hal itu dalam hadits Barro’ bin ‘Azib yang panjang. Telah kita sebutkan dengan teksnya dalam soal no. 8829.

Cuman kembalinya ruh ke jasad ketika ditanyakan adalah pengembalian secara khusus. bukan seperti kondisi di dunia seperti tadi. Akan tetapi kembali dalam alam barzah, begitu juga kehidupan dan pertanyaan serta jawabannya. Adalah dalam kondisi kehidupan barzah. Bukan seperti kondisi di dunia. Wallahu’alam tentang bagaimana cara dan sifatnya.

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Kita seharusnya–wahai saudara-saudara- bahwa apa yang diberitahukan oleh Allah tentang masalah goib mengatakan, “Kita beriman dan mempercayainya. Jangan ada pertanyaan-pertanyaan lain. karena urusannya di atas akal kita. Dan kaidah ini terkait dengan masalah-masalah goib dengan Allah azza wajallan atau makhluk-Nya.

Masalah-masalah goib tidak mungkin disitu ada kata-kata (kenapa) tidak juga kata (Bagaimana) karena urusannya diatas akal kita. Oleh karena itu ketika ada yang bertanya kepada Rasulullah tentang ruh, apa yang Allah katakan kepada mereka? Allah Berfirman (Katakanlah (wahai Muhammad), sesungguhnya ruh adalah urusan tuhanku). Urusan yang kita tidak bisa menggapainya (Dan kami tidak memberikan kepada kamu semua kecuali ilmu yang sangat sedikit sekali) (QS. AL-Isro’: 85). Maha suci Allah !!. maksudnya, apakah anda semua dapatkan dalam semua ilmu kecuali ilmu ruh !!. banyak ilmu yang terlepas dari anda semuanya, dan apa yang kami berikan ilmu kepadamu sangat sedikit sekali. ini sangat mengherankan. Ruh anda yang ada diantara anda, dimana tidak bisa berdiri kecuali dengan anda, kamu tidak mengetahui apa itu? Kami tidak mengetahuinya tentang ruh. Kecuali apa yang ada nash-nash dari Al-Qur’an dan Sunnah. Kalau tidak ada, maka kita katakan tidak tahu.” Selesai dari ‘Liqo’at Al-Bab Al-Maftuhah, pertemuan ke-169.

Wallahua’lam

Refrensi: Soal Jawab Tentang Islam