Selasa 3 Rabi'uts Tsani 1440 - 11 Desember 2018
Indonesian

Hadits Palsu Yang Menjelaskan Tentang Keutamaan Ahli Bait di Antaranya Adalah: “Wahai Abu Hasan, angkatlah tanganmu ke langit, berdoalah kepada Rabbmu dan memohonlah kepada beliau, maka Dia akan memberikannya”

284270

Tanggal Tayang : 11-11-2018

Penampilan-penampilan : 131

Pertanyaan

Saya mendapatkan pesan singkat dan saya ingin memastikan keshahihan beberapa hadits yang tertera di dalam pesan tersebut, di antaranya adalah:

Dari Ibnu Abbas berkata: “Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- menyahut tangan saya dan tangan Ali seraya beliau melaksanakan shalat empat raka’at, kemudian beliau menengadahkan tangannya ke langit dan bersabda:

“Ya Allah, Musa bin Imran telah memohon kepada-Mu, dan sungguh Muhammad telah memohon kepada-Mu agar Engkau Melapangkan dadaku, Memudahkan urusanku, dan Melepaskan kekakuan pada lisanku; agar mereka memahami ucapanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku (yaitu) Ali, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku”.

Ibnu Abbas berkata: “Maka aku mendengar seorang penyeru menyeru: “Wahai Ahmad, telah dikabulkan apa yang engkau minta”. Maka Nabi bersabda: “Wahai Abu Hasan, angkatlah tanganmu ke langit dan berdoalah kepada Rabb-mu dan memohonlah niscaya kamu akan diberi”. Lalu Ali mengangkat tangannya ke langit dan berkata: “Ya Allah, jadikan aku di sisi-Mu mempunyai janji (kedudukan), dan jadikanlah aku di sisi-Mu penuh dengan kasih sayang”. Maka Allah menurunkan kepada Nabi-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدّاً

﴿٩٦﴾

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang”. (QS. Maryam: 96)

Seraya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- membacakannya di hadapan para sahabatnya, mereka sangat kagum, lalu Nabi bertanya: “Kalian kagum dalam hal apa ?, sungguh Al Qur’an itu dibagi menjadi 4/4: ¼ dikhususkan untuk kami sebagai Ahli Bait, ¼ lainnya untuk para musuh kita, ¼ lainnya berkenaan dengan halal dan haram, dam ¼ lainnya berisi tentang faraidh dan hukum-hukum, dan Allah telah menurunkan kepada Ali kemuliaan Al Qur’an”. (Manaqib Maulana Amirul Mukminin Imam Ali bin Abi Thalib –‘alaihis salam/karya Ibnu Al Maghazili)

Teks Jawaban

Alhamdulillah

Berita itu diriwayatkan oleh Ibnu Al Maghazili dalam kitab Manaqib Ali: 375 dia berkata:

“Abu Ishak Ibrahim bin Thalhah bin Ghassan bin Nu’man Al Kazruni telah mengabarkan kepada kami, beliau telah mendapatkan ijazah (lisensi) dari Umar bin Muhammad bin Yusuf yang telah meriwayatkan kepada mereka berkata: “Abu Ishak Al Madini telah meriwayatkan kepada kami, Ahmad bin Musa Al Harami telah meriwayatkan kepada kami, Husain bin Tsabit Al Madani pembantu Musa bin Ja’far telah meriwayatkan kepada kami, Ayah kami telah meriwayatkan kepada kami dari Syu’bah bin Hakam dari Ikrimah dari Ibnu Abbas… seraya menyebutkan riwayat di atas.

Ini merupakan isnad (mata rantai hadits) yang tidak dikenal sampai ke Syu’bah, kalau saja isnad tersebut benar, maka pasti telah diriwayatkan oleh teman-teman Syu’bah yang terpercaya yang nota benenya mereka lebih mengetahui dengan haditsnya dan yang paling banyak mengetahui tentang beliau dari pada orang yang telah meriwayatkannya di atas, yaitu;

Tsabit bin Anas bin Zhahir itu orang yang tidak dikenal, Ibnu Abi Hatim bekata: “Anaknya Husain telah meriwayatkan darinya, saya mendengar ayah kami telah mengatakan demikian, dan beliau berkata: “ia tidak dikenal”. (Kitab Jarh wa Ta’dil: 2/449)

Husain anak dari Tsabit tersebut juga tidak dikenal sama dengan ayahnya, sebagaimana juga disebutkan dalam kitab Jarh wa Ta’dil: 3/48.

Ahmad bin Musa Al Harami kami belum menemukan biografinya, demikian juga dengan Abu Ishak Al Madini, keduanya yang telah meriwayatkan darinya.

Furat bin Ibrahim Al Kufi seorang syi’ah yang telah meriwayatkan berita ini secara ringkas di dalam tafsirnya dari Ahmad bin Musa.

Bisa dirujuk pada kitab “Asy Syi’ah wal Al Qur’an halaman 158 karya Syeikh Ihsan Ilahi Zhahir.

Riwayat di atas tidak dikenal oleh kalangan ahlus sunnah, akan tetapi yang meriwayatkan adalah kalangan syi’ah dari orang-orang yang tidak dikenal, sebagaimana kebiasaan mereka dalam riwayat-riwayat mereka.

Abu Syeikh Al Ashbahani dalam kitab Thabaqatul Muhadditsin: 2/364 melalui jalur Ishak bin Basyar Al Kahili berkata: “Abdul Karm ini telah meriwayatkan kepada kami dari Abu Ishak, dari Barra’ bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda kepada Ali:

“Katakanlah: “Ya Allah jadikan aku di sisi-Mu mempunyai janji (kedudukan), dan jadikan aku di dalam dada orang-orang mukmin penuh dengan kecintaan”.

Ishak bin Basyar tertuduh sebagai pendusta, Mathin berkata: “Belum pernah saya mendengar Abu Bakr bin Abi Syaibah mendustakan seseorang kecuali Ishak bin Basyr Al Kahili, begitu juga Musa bin Harun dan Abu Zar’ah telah menduskannya”.

Al Fallas dan yang lainnya berkata: “Ia sebagai seorang yang matruk (tertinggal/tidak dianggap)”.

Ad Daruquthni berkata: “Dia termasuk dalam kalangan yang membuat hadits palsu”.

(Mizanu Al I’tidal: 1/186)

Di antara yang menunjukkan bahwa riwayat tersebut batil adalah ucapannya yang mengatakan:

“Dan Engkau melepaskan kekakuan pada lisanku; agar mereka memahami ucapanku”.

Karena sungguh Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- adalah manusia paling fashih lisannya, paling berat ucapannya, paling jelas penjelasannya, tidak diragukan lagi –baik sebelum maupun sesudah kenabiannya- bahwa beliau terhindar dari kesalahan lisannya yang menghalanginya karena keindahan penjelasannya.

Sedangkan Nabi Musa –‘alaihis salam- maka telah disebutkan oleh para ahli tasfir bahwa beliau agak sulit mengucapakan hingga hampir saja tidak bisa difahami ucapannya, maka dari itu beliau berdoa kepada Rabb-nya dengan mengatakan:

   وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي 

“Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku”. (QS. Thaha: 27-28)

(Baca: Tafsir As Sa’di: 504)

Adapun yang termaktub dalam sunnah tentang tafsir dari ayat tersebut adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Tirmidzi (3161) dan beliau menshahihkannya dari Abu Hurairah bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

 

 إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ: إِنِّي قَدْ أَحْبَبْتُ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ "، قَالَ: " فَيُنَادِي فِي السَّمَاءِ، ثُمَّ تَنْزِلُ لَهُ المَحَبَّةُ فِي أَهْلِ الأَرْضِ، فَذَلِكَ قَوْلُ اللَّهِ:

  إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدًّا 

 

“Jika Allah telah mencintai seseorang maka Dia memanggil Jibril: “Sungguh Aku telah mencintai fulan, maka cintailah dia”, seraya beliau umumkan di langit, kemudian turun pula kecintaan tersebut bagi penduduk bumi, maka itulah maksud dari firman Allah: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang”. (Dishahihkan oleh Tirmidzi dalam Shahih Tirmidzi)

As Sa’di –rahimahullah berkata:

“Hal ini termasuk salah satu nikmat-Nya kepada para hamba-Nya, yang mana mereka telah menggabungkan antara iman dan amal shalih, dengan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang; yaitu rasa cinta dan sayang di dalam hati para pengikutnya, baik penduduk langit maupun bumi, dan jika ada kecintaan di dalam hati mereka, akan ada banyak kemudahan dalam urusan mereka, mereka juga akan mendapatkan banyak kebaikan, doa, petunjuk, mudah diterima dan kepemimpinan yang ia capai”. (Tafsir As Sa’di: 501)

Ayat ini umum berlaku bagi setiap mukmin yang sholih, dan tidak dikhususkan bagi Ali saja atau hanya kepada mereka para ahli bait saja –radhiyallahu ‘anum-.

Kesimpulan jawaban ini adalah:

Hadits ini lemah dari sisi sanadnya, dan termasuk dari hadits-hadits orang-orang syi’ah yang sudah terkenal dengan kedustaan kepada Allah dan kepada Rasul-Nya.

Refrensi: Soal Jawab Tentang Islam

Kirim Catatan