Kamis 20 Sya'ban 1440 - 25 April 2019
Indonesian

Hikmah Pemilihan Bulan Ramadhan Untuk Beribadah

298140

Tanggal Tayang : 12-04-2019

Penampilan-penampilan : 147

Pertanyaan

Kenapa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah memilih bulan Ramadhan secara khusus untuk beribadah ?

Teks Jawaban

Alhamdulillah

Pertama:

Allah –subhanahu wa ta’ala- adalah Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana, seorang mukmin ada kalanya mengetahui hikmah yang karenanya disyariatkannya hukum oleh Allah dan adakalanya tidak mengetahuinya, pada kondisi tersebut ia berkata sebagaimana ucapan para malaikat:

سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ 

 البقرة/32.

“Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS. Al Baqarah: 32)

Allah –Ta’ala- mengutamakan sebagian waktu dari sebagian lainnya, dan sebagian makhluk dari makhluk lainnya beberapa derajat dari-Nya –subhanahu- dan dengan pujian kepada-Nya, dan kasih sayang Allah secara khusus akan diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki.

Kami tidak mengetahui dengan yakin hikmah dari pemilihan bulan Ramadhan seperti waktu tertentu untuk beribadah.

Dan Allah –Jalla Jalaluh-, Dia-lah Sang Pencipta semua makhluk, Raja diraja, Yang menciptakan waktu, Memuliakan sebagiannya atas sebagian lainnya, Yang menciptakan tempat, Mengutamakan sebagiannya atas sebagian lainnya, Yang telah menciptakan para hamba, Memilih sebagian mereka atas sebagian lainnya, inilah bentuk sempurna keagungan-Nya yang tidak ada seorang pun yang sampai kesana, dan bentuk sempurna kerajaan-Nya yang semua makhluk tidak mampu untuk menggapainya, Allah –Ta’ala- berfirman:

مَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ* اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ * يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ

 الحج/74-79

“Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Allah memilih utusan-utusan (Nya) dari malaikat dan dari manusia; sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Allah mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka. Dan hanya kepada Allah dikembalikan semua urusan”. (QS. Al Hajj: 74-79)

Ini juga merupakan bentuk sempurna kehendak-Nya dan kebebasan kehendak tersebut, keagungan Rububiyah dan kekuasaan-Nya. Allah –Ta’ala- berfirman:

كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ

  الحج/13

“Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama) -Nya orang yang kembali (kepada-Nya)”. (QS. Al Hajj: 13)

Allah –Ta’ala- juga berfirman:

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

القصص/68

“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia)”. (QS. Al Qashash: 68)

Ibnul Qayyim –rahimahullah berkata:

“Pilihan ini bukan bagi mereka, akan tetapi bagi Sang Pencipta semata, sebagaimana Dia Yang Maha Esa untuk menciptakan maka Dia juga Yang Maha Memilihnya, tidak satu pun yang menciptakan dan memilih selain-Nya, Dia-lah Yang Maha Mengetahui tempat-tempat pilihan dan ridho-Nya, dan apa yang baik dan mana yang tidak baik, dan selain-Nya tidak ikut campur sama sekali dalam hal ini”.

Kemudian beliau berkata:

“Jika anda pikirkan kondisi penciptaan ini, maka anda akan memilih dan pengkhususan ini, semua itu menunjukkan akan Rububiyah-Nya, dan ke-Esaan-Nya, kesempurnaan hikmah, ilmu, dan kemampuan-Nya, dan bahwa Dia-lah Allah yang tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam menciptakan seperti ciptaan-Nya, memilih seperti pilihan-Nya dan memelihara seperti peliharaan-Nya.

Pilihan, peliharaan dan pengkhususan ini yang bisa disaksikan dampaknya di dunia termasuk tanda-tanda Rububiyah-Nya yang teragung, dan saksi terbesar akan ke-Esaan-Nya, sifat kesempurnaan-Nya, kejujuran para Rasul-Nya. maka dengan mudah menjadi perhatian apa yang ada di baliknya menunjukkan hal yang lainnya.

Allah telah menciptakan 7 langit dan memilih tingkat yang tertinggi untuk menjadi tempat mereka yang didekatkan dari kalangan para malaikat, mengkhususkannya untuk menjadi dekat dengan kursi-Nya dan arsy-Nya, dan menjadikannya tempat tinggal bagi siapa saja yang Dia kehendaki dari makhluk-Nya, maka langit tersebut mempunyai keistimewaan, keutamaan dari langit lainnya, kalau tidak seperti itu, Allah tidak akan mendekatkannya kepada-Nya –Tabaraka wa Ta’ala-.

Keutamaan dan kekhususan ini padahal sama-sama langitnya menjadi bukti yang paling jelas akan kesempurnaan kekuasaan dan hikmah-Nya bahwa Dia telah menciptakan dan memilih apa saja yang Dia kehendaki.

Termasuk dalam hal ini pula Allah –subhanah- lebih mengutamakan surga firdaus dari pada surga-surga lainnya, dan mengkhususkannya dan menjadikan ‘Arsy-Nya sebagai atapnya, dan dalam sebagian atsar disebutkan:

  إن الله سبحانه غرسها بيده واختارها لخيرته من خلقه    

“Sungguh Allah –subhanah- telah menanamnya dengan tangan-Nya dan memilihnya untuk mereka para makhluk-Nya yang terbaik”.

Termasuk dalam hal ini juga Allah memilih para malaikat pilihan dari pada para malaikat lainnya, seperti; Jibril, Mikail, Israfil, dan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah bersabda:

اللهم رب جبريل وميكائيل وإسرافيل، فاطر السماوات والأرض، عالم الغيب والشهادة، أنت تحكم بين عبادك فيما كانوا فيه يختلفون، اهدني لما اختلف فيه من الحق بإذنك، إنك تهدي من تشاء إلى صراط مستقيم

“Ya Allah, Tuhannya Jibril, Mikail, Israfil, Pencipta langit dan bumi, Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Engkau memberikan putusan kepada para hamba-Mu yang telah berselisih di antara mereka, berilah petunjuk kepadaku pada saat ada perbedaan dalam kebenaran dengan izin-Mu, sesungguhnya Engkau akan memberi petunjuk kepada siapa saja yang Engkau kehendaki kepada jalan yang lurus”.

Maka Beliau telah menyebutkan mereka bertiga dari para malaikat karena kesempurnaan keistimewaan dan sebagai malaikat pilihan dan mereka telah didekatkan kepada Allah, berapa banyak malaikat lainnya selain mereka di langit ini, namun beliau tidak menyebutkan kecuali mereka bertiga. Jibril sebagai penyampai wahyu yang dengannya menjadikan hati hidup, dan Mikail sebagai penurun hujan yang dengannya menjadikan bumi, hewan dan tumbuh-tumbuhan hidup, dan Isrofil sebagai peniup sangkakala, jika ia meniupnya maka dengannya semua yang mati kembali hidup dengan izin Allah dan mengeluarkan mereka dari kubur mereka”. (Zaad Al Ma’ad: 1/42 dan setelahnya)

Kemudian beliau –rahimahullah- juga berkata setelahnya:

“Termasuk dalam hal ini adalah pengutamaan sebagian hari dan bulan atas sebagian lainnya, maka sebaik-baik hari menurut Allah adalah hari sembelihan (hari nahr) yang juga bertepatan dengan hari haji akbar.

Termasuk juga pengutamaan bulan Ramadhan atas bulan-bulan lainnya, pengutamaan 10 hari terakhir dari Ramadhan atas semua malam, dan pengutamaan  lailatul qadar dari pada 1000 bulan”. 

“Maksudnya sungguh Allah –subhanahu wa ta’ala- telah memilih yang terbaik dari setiap jenis makhluk-Nya, dan mengkhususkannya untuk diri-Nya, meridhoinya dan tidak kepada yang lain; karena Allah itu Maha Baik tidak mencintai kecuali yang baik, dan tidak menerima amalan, ucapan dan shadaqah kecuali yang baik, maka segala sesuatu yang baik akan menjadi pilihan-Nya –subhanah-“. (Zaad al Ma’ad: 1/57,54,64)

Kedua:

Pengkhususan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- kepada bulan Ramadhan untuk beribadah dan berpuasa:

Jika maksudnya adalah mengkhususkannya untuk hal tersebut setelah kenabian, maka lebih mengutamakan hal itu karena wahyu dari Allah, dan Dia-lah yang telah memilihnya untuk para hamba-Nya, dan menyuruh mereka untuk berpuasa di dalamnya, dan beribadah kepada-Nya pada bulan tersebut dengan ibadah yang lebih dari bulan-bulan lainnya, hal ini yang telah dijelaskan sebelumnya dalam masalah yang pertama.

Adapun jika yang dimaksud dari pertanyaan tersebut tentang tahannuts (menyendiri) nya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan ibadah beliau kepada Allah di dalam gua Hira’ sebelum turunnya wahyu kepada beliau dan Allah muliakan beliau dengan kenabian, maka kami tidak mengetahui rincian penjelasannya dan keadaan beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam- di dalamnya, mengetahui atau tidak mengetahui hal tersebut tidak berdampak pada agama; karena agama dan syari’at umum bagi para hamba seluruhnya adalah apa yang dibawa oleh beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam- setelah kenabian, adapun sebelum kenabian maka kita tidak diperintah untuk mengikuti beliau dalam hal tersebut –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Sebagian ulama telah menyebutkan kemungkinannya, bahwa hal itu termasuk sisa-sisa agama Nabi Ibrahim –‘alaihis salam- yang sampai kepada beliau, sebagaimana telah sampai kepada sejumlah orang tertentu yang lurus yang mereka ini menyembah Allah berdasarkan agama Nabi Ibrahim –‘alaihis salam- sebelum Allah mewahyukan syari’at-Nya kepada Nabi-Nya.

Ulama Thahir bin ‘Asyur –rahimahullah- berkata:

“Telah terpilihnya bulan Ramadhan tidak bulan-bulan lainnya; karena Dia (Allah) telah memuliakannya dengan turunnya Al Qur’an di dalamnya, karena jika turunnya Al Qur’an tujuannya untuk membersihkan umat dan memberi petunjuk kepada mereka, maka hal itu sesuai untuk pensucian jiwa dan mendekati kondisi kemalaikatan (kesucian) terjadi pada bulan tersebut.

Besar prediksi saya bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah berpuasa selama beberapa hari selama beribadah di gua Hira’ sebelum diturunkannya wahyu, setelah mendapatkan ilham dari Allah –Ta’ala- dan mendapatkan bimbingan untuk sisa agama (Nabi Ibrahim) yang lurus, ketika wahyu telah diturunkan kepada beliau pada bulan Ramadhan, Allah telah menyuruh umat Islam untuk berpuasa pada bulan tersebut”. (At Tahrir wat Tanwir: 2/173)

Wallahu A’lam

Refrensi: Soal Jawab Tentang Islam

Kirim Catatan