Dalam diri seorang yang beriman berkumpul antara harapan, rasa takut, dan rasa cinta; harapan disini adalah: prasangka baik kepada Allah ta’ala bahwa Dia akan menerima amalnya, meneguhkannya, dan memasukkannya kedalam surga, ada banyak ayat yang menyeru dan memotivasi hal-hal tersebut.
Para sahabat menyatukan diantara semuanya, rasa takut untuk tidak diterima, bukanlah sesuatu yang dominan dalam kehidupan mereka, kadangkala begini, dan kadangkala begitu.
Demikianlah semestinya yang berlaku pada anda, pada saat anda bersemangat beribadah, artinya harapan dan prasangka baik yang lebih dominan.
Dan apabila anda lalai dan berbuat dosa; maka yang lebih dominan adalah rasa takut yang mendorong anda untuk segera bertaubat, banyak beristighfar, dan melakukan amalan-amalan yang baik.
Tidak diragukan bahwa jiwa tidak selalu dalam satu kondisi yang sama, namun berputar antara menerima dan menolak, antara semangat dan kelesuan, antara ketaatan dan maksiat, sikap yang benar adalah yang mampu mengendalikan, mengatur, dan menjaganya, dan itu dilakukan dengan harapan dan rasa takut.
Dan jika ia menyikapinya hanya dengan harapan saja, kemungkinan hal itu bisa menjerumuskannya dalam kesombongan dan angan-angan semata, malas bekerja, karena terbuai dengan kesabaran dan ampunan Allah, dan hanya bergantung pada prasangka baik kepada-Nya.
Allah subhanahu wa ta’ala menggambarkan para Nabi dan wali-Nya sebagai sesorang yang memadukan antara rasa takut dan harapan dalam dirinya, Allah berfirman:
فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ
الأنبياء/90
(Maka, Kami mengabulkan (doa)-nya, menganugerahkan Yahya kepadanya, dan menjadikan istrinya (dapat mengandung). Sesungguhnya mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan dan berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.), QS. Al-Anbiya /90.
Penuh harap: sangat menginginkan dan sangat berharap.
Cemas: rasa takut
وَالَّذِي أَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ
الشعراء/82
((Dia) yang sangat kuinginkan untuk mengampuni kesalahanku pada hari Pembalasan.) QS. As-Syu’ara /82, dan firman-Nya:
وَاجْعَلْنِي مِنْ وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيمِ
الشعراء/85
(Jadikanlah aku termasuk orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan.), QS. As-Syu’ara /85.
Kekasih-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
وَاللَّهِ إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَعْلَمَكُمْ بِمَا أَتَّقِي رواه مسلم (1110
"Demi Allah, aku berharap menjadi orang yang paling takut di antara kalian pada Allah dan orang yang paling tahu di antara kalian dengan apa yang aku perbuat! ". HR. Muslim (1110)
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Allah ta’ala memadukan ketiga posisi tersebut dalam firman-Nya:
أولئك الذين يدعون يبتغون إلى ربهم الوسيلة أيهم أقرب ويرجون رحمته ويخافون عذابه
الإسراء/ 57
(Orang-orang yang mereka seru itu, mereka (sendiri) mencari jalan kepada Tuhan (masing-masing berharap) siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah). Mereka juga mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya.), QS. Al-Isra’ /57.
Mencari jalan: adalah rasa cinta kepada-Nya yang menuntunya untuk mendekatkan diri kepada Allah, penyebutan harapan dan rasa takut sesudahnya, ini adalah jalan yang ditempuh oleh para hamba dan wali-Nya, terkadang ada yang beribadah kepada-Nya semata-mata karena rasa cinta, ada juga yang menghalalkan hal-hal yang dilarang, dan mengatakan: “dosa tidak berakibat buruk bagi pecinta”, mengenai hal ini Beberapa orang telah menulis buku, di mana mereka mengutip sebuah hadis yang dusta:
إذا أحب الله العبد لم تضره الذنوب
"Jika Allah mencintai seorang hamba, dosa-dosa tidak akan merugikannya.".
Ini adalah kesalahan mutlak, bertentangan dengan Islam, karena perbuatan dosa itu sendiri tentu akan merugikan setiap orang, sebagiamana berbahayanya racun bagi tubuh. Akhir kutipan dari “Badai’ul fawaid” (3/3).
Sebagian salaf menganjurkan bahwa rasa takut seseorang harus lebih kuat pada masa sehat, rasa harap harus lebih kuat pada masa lemah dan mendekati ajal.
Sebagian dari mereka ada yang menganjurkan perlunya keseimbangan dan menonjolkan rasa cinta.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “perjalanan hati menuju Allah ‘azza wa jalla, ibarat burung; rasa cinta adalah kepalanya, rasa takut dan harapan adalah kedua sayapnya, jika kepala dan kedua sayapnya sehat, maka ia bisa terbang dengan baik, dan jika kepalanya putus, maka burung itu mati, dan jika ia kehilangan kedua sayapnya, maka ia rentan terhadap ancaman dari para pemburu dan predator.
Namun, para Salaf lebih menganjurkan bahwa ketika seseorang sehat, sayap rasa takut harus lebih kuat daripada sayap harapan. Dan ketika meninggalkan dunia ini, sayap harapan harus lebih kuat daripada sayap rasa takut. Inilah metode Abu Sulaiman dan lainnya. ia berkata: sesmestinya Hati harus dikuasai oleh rasa takut, karena jika harapan menguasainya, ia akan rusak.
Yang lain mengatakan: “keadaan yang paling ideal adalah: adanya keseimbangan antara harapan dan rasa takut, dan kuatnya rasa cinta, karena rasa cinta ibarat tunggangan, harapan adalah kudanya, dan rasa takut adalah pengemudinya, dan Allah-lah yang dengan Rahmat dan kemuliannya membawa ke tempat tujuan. Akhir kutipan dari “Madarijus salikin” (1/514).
Seseorang lebih memahami dirinya, jika rasa cinta, harapan, dan prasangka baik lebih dominan, menghasilkan lebih banyak dari rasa takut; maka tidak ada yang salah dengan hal itu, selama ia sama sekali tidak mengabaikan rasa takut, setiap kali ia lalai, tergelincir, ataupun merasa tertinggal dari para pendahulu yang soleh ia membangkitkan rasa takut.
Allah memuji hamba-hamba Nya karena rasa takut mereka, Dia berfirman:
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ. أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ
المؤمنون/60، 61
(dan orang-orang yang melakukan (kebaikan) yang telah mereka kerjakan dengan hati penuh rasa takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhannya. Mereka itu bersegera dalam (melakukan) kebaikan-kebaikan dan merekalah orang-orang yang lebih dahulu memperolehnya.), QS. Al-Mu’minum /60-61.
Diriwayatkan oleh Ahmad (25263), dan Tirmidzi (3175), dan Ibnu Majah (4198), dari ['Aisyah] dia berkata:
يَا رَسُولَ اللَّهِ وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ المؤمنون: 60 أَهُوَ الَّذِي يَزْنِي، وَيَسْرِقُ، وَيَشْرَبُ الْخَمْرَ؟ قَالَ: لَا، يَا بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ أَوْ يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ وَلَكِنَّهُ الرَّجُلُ يَصُومُ، وَيَتَصَدَّقُ، وَيُصَلِّي، وَهُوَ يَخَافُ أَنْ لَا يُتَقَبَّلَ مِنْهُ . والحديث صححه الألباني في صحيح سنن الترمذي
"Saya bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah firman Allah: '(Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut…) ' (Qs. Al Mukminuun: 60), ditujukan kepada orang-orang berzina, mencuri dan minum minuman keras saja?" Beliau menjawab: "Tidak wahai puteri Abu Bakar -atau wahai puteri As Shiddiq-, tetapi (ayat tersebut) ditujukan kepada seseorang yang berpuasa, bersedekah dan shalat, sedangkan ia takut jika amalannya tidak di terima.", hadis ini digolongkan sahih oleh al-albani dalam “Sahih Sunan At-Tirmidzi”
Tidak perlu di pertentangkan antara orang yang berharap dan orang yang takut, karena hal ini menimbulkan Kesan bahwa orang yang berharap larut dalam harapannya dan tidak punya rasa takut, dan orang yang takut akan tenggelam dalam ketakutanya tanpa punya harapan, dan anda sudah tahu bahwa orang yang beriman memadukan keduanya dalam dirinya, meski bisa jadi salah satu lebih kuat dari lainnya.
Lanjutkanlah melakukan hal-hal baik, dan berprasangka baiklah kepada Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Pemurah, dan jadikanlah apa yang kalian dapati dari sebagian para salaf sebagai ungkapan rasa takut yang semestinya tidak bersifat permanen, akan tetapi sebagai penuntun jalan, ia sama sekali tidak boleh hilang dari diri seorang mukmin.
Wallahu a’lam.