Rabu 18 Muharrom 1446 - 24 Juli 2024
Indonesian

Hakekat Beriman Kepada Para Rasul

Pertanyaan

Apa maksud beriman kepada para Rasul?

Teks Jawaban

Alhamdulillah.

Beriman kepada para Rasul mencakup empat hal:

Pertama: pembenaran yang kuat bahwa Allah mengutus kepada setiap umat seorang Rasul dikalangan mereka yang mengajak kepada ibadah kepada Allah saja dan menginkari  segala yang disembah selain-Nya. Mereka semua jujur dan benar, baik, bagus, bertakwa dan amanah. Dan mereka menyampaikan semua apa yang Allah utus kepadanya. Tidak disembunyikan dan tidak dirubahnya. Serta tidak menambahkan dari dirinya meskupun satu huruf serta tidak akan menguranginya.

فهل على الرسل إلا البلاغ المبين

النحل : 35

“maka tidak ada kewajiban atas para rasul, selain dari menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” QS.AN-Nahl: 35.

  • Bahwa dakwah mereka, sejak nabi pertama sampai yang terakhir, adalah sama dalam prinsip beribadah dan landasan dasarnya. Yaitu tauhid dan mengesakan Allah ta’ala dengan semua bentuk ibadahnya. Dengan meyakini baik secara ucapan maupun perbuatan. Dan mengingkari (kufur) semua yang disembah selain-Nya. Dalil akan hal tu adalah Firman Allah ta’ala:

وما أرسلنا من قبلك من رسول إلا نوحي إليه أنه لا إله إلا أنا فاعبدون

سورة الأنبياء: 25

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku." (QS. Al-Anbiya: 25)

Dan firman-Nya:

واسأل من أرسلنا من قبلك من رسلنا أجعلنا من دون الرحمن آلهةً يعبدون 

سورة الزخرف/45 .

“Dan tanyakanlah kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu: "Adakah Kami menentukan tuhan-tuhan untuk disembah selain Allah Yang Maha Pemurah?" (QS. Az-Zukhruf: 45)

Dan ayat-ayat lainnya yang banyak sekali.

Sementara kewajiban-kewajiban yang disembah dan cabang-cabang syariat, maka telah di wajibkan kepada mereka shalat, puasa dan semisalnya yang tidak diwajibkan kepada yang lainnya. Dan diharamkan kepada mereka apa yang dihalalkan untuk yang lainnya dalam rangka ujian dari Allah:

ليبلوكم أيكم أحسن عملا

سورة الملك: 2

“supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al-mulik: 2)

Dalil akan hal itu adalah firman Allah ta’ala:

 لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجاً

سورة المائدة: 48

“Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.” (QS. Al-Maidah: 48)

Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma berkata, “Jalan dan sunnah. Pendapat yang sama dikatakan oleh Mujahid, Ikrmah, dan sekelompok ulama ahli tafsir.”

Dalam shahih Bukhori, (3443) dan Muslim, (2365) dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah sallallahu’alihi wa sallam bersabda:

الأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلاتٍ أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ

“Para Nabi itu saudara satu ayah sementara ibunya berbeda-beda dan agama mereka satu.”

Maksudnya adalah para nabi itu bersatu pada asal pokoknya yaitu tauhid dimana Allah utus untuk setiap Rasul yang diutus-Nya. Dan menggaransi semua kitab yang diturunkan-Nya. Sementara syariatnya berbeda-beda dalam perintah dan larangan, halal dan haram. Karena saudaranya satu ayah mereka satu  sementara ibu mereka berbeda-beda.

  • Siapa yang mengkufuri dengan satu risalah mereka, maka dia telah mengkufuri semuanya sebagamana firman Allah ta’ala:

كذبت قوم نوح المرسلين

سورة الشعراء: 10

“Kaum Nuh telah mendustakan para rasul.” (QS. As-Syu’ara: 105)

Allah menjadikan mereka mendustakan semua Rasul padahal waktu itu hanya ada satu Rasul saja ketika mereka mendustakannya.

Kedua: beriman dengan nama di antara mereka yang kita ketahui namanya seperti Muhammad, Ibrohim, Musa, Isa dan Nuh alaihimus solatu wassalam. Dan yang disebutkan di antara mereka secara global dan kita tidak mengetahui namanya, maka kita harus beriman dengannya secara global sebagaimana Firman Allah ta’ala:

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ

سورة البقرة: 285

“Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", (QS. AL-Baqarah: 285)

Dan firman-Nya:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلاً مِنْ قَبْلِكَ مِنْهُمْ مَنْ قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَنْ لَمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ

سورة غافر: 78

“Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu.” (QS. Ghafir: 78)

Dan kita beriman bahwa yang terakhir adalah Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam, dan tidak ada Nabi lagi setelahnya. Sebagaimana Firman Allah ta’ala:

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيماً

سورة الأحزاب: 40

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab: 40)

Dalam Shahih Bukhori, (4416) dan Muslim, (2404) dari Sa’ad bin Abi Waqqos radhiallahu anhu sesungguhnya Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam berangkat ke Tabuk sedangkan Ali menggantikan (posisi beliau di Madinah). Maka Ali berkata: “Apakah anda meninggalkan diriku bersama anak-anak dan para wanita. Maka beliau bersabda;

 أَلا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى إِلا أَنَّهُ لَيْسَ نَبِيٌّ بَعْدِي

“Apakah engkau tidak ridha jika kedudukanmu seperti Harun di samping Musa, hanya saja tidak ada Nabi setelahku.

Dan Allah memberikan kelebihan dan mengkhususkan Rasululah shallallahu alaihi wa sallam dibandingkan para nabi lainnya dengan beberapa kekhususan di antaranya adalah

  1. Allah mengutusnya ke seluruh makhluk jenis jin dan Manusia. Sementara para nabi sebelumnya diutus hanya untuk kaumnya saja
  2. Allah memberikan kemenangan atas musuh-musuhnya dengan rasa takut musuh dari jarak perjalanan satu bulan
  3. Allah menjadikan seluruh muka bumi sebagai tempat yang boleh untuk shalat dan (tanahnya) untuk bersuci (tayammum)
  4. Dihalalkan baginya gonimah (barang rampasan perang) sedangkan sebelumnya tidak dihalalkan kepada seorang pun.
  5. Diberikan Syafaat terbesar.

Dan kekhususan-kekhususan lainnya yang banyak.

Ketiga: membenarkan kabar yang shahih dari mereka

Keempat: mengamalkan syariat Rasul yang diutus yaitu syariat terakhir Nabi Muhammad sallallahu alaihi  wa sallam yang diutus untuk seluruh manusia. Allah ta’ala berfirman:

فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجاً مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيماً

سورة النساء: 65

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa: 65)

Perlu diketahui bahwa beriman kepada para Rasul menghasilkan pengaruh besar, di antaranya adalah :

  1. Meyakini kasih sayang Allah ta’ala serta perhatian terhadap hamba-Nya dimana (Allah) mengutus seorang Utusan (Rasul) kepada mereka untuk menunjukkan ke jalan Allah ta’ala dan menjelaskan kepada mereka bagaimana cara beribadah kepada Allah. karena akal manusia tidak independen mengetahui akan hal itu
  2. Bersyukur kepada Allah atas nikmat nan agung ini.
  3. Mencintai para Rasul sallallahu alaihi mus salam dan mengagungkannya. Serta menyanjungnya yang layak untuk mereka karena mereka adalah para utusan Allah ta’ala. Dan karena mereka menunaikan ibadah kepada-Nya dan menyampaikan risalahnya serta memberikan nasehat kepada para hamba-Nya. Wallahua’lam

Silahkan merujuk (A’lamus Sunnah Al-Mansyurh, 97-102 dan kitab (Syarkh Al-Usuluts Tsalatsah karangan Syekh Ibnu Utsaimin, 95-96).

Refrensi: Syeikh Muhammad Sholih Al-Munajid