Ahad 29 Jumadits Tsani 1441 - 23 Pebruari 2020
Indonesian

Hidayah Itu Dari Allah dan Sebab Itu Dari Para Makhluk

Pertanyaan

Bagaimana menggabungkan antara firman Allah Ta’ala:

  وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَن تُؤْمِنَ إِلاَّ بِإِذْنِ اللّه 

“Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah”. (QS. Yunus: 100)

Dengan ayat ini:

  الله يهدي من يشاء  

“Dan Allah memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya”. (QS. An Nuur: 46)

Saya berusaha keras untuk berada di atas fitrah yang Allah telah ciptakan kita di atasnya, dan agar saya mentaati-Nya dengan beriman kepada semua yang Dia minta untuk mengimaninya, akan tetapi mulai ada rasa was-was syetan yang menghampiri saya dalam masalah ini, oleh karenanya saya mohon jawabannya…

Teks Jawaban

Alhamdulillah

Pertama:

Taufik dan hidayah itu berada di tangan Allah ‘Azza wa Jalla, barang siapa yang Allah kehendaki untuk diberikan hidayah maka Dia akan memberikannya, dan barang siapa yang Dia kehendaki untuk menjadi sesat, maka akan berada di dalam kesesatan, Allah Ta’ala berfirman:

  ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

الزمر/23

“Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya”. (QS. Az Zumar: 23)

Dia Jalla wa ‘Ala juga berfirman:

  مَنْ يَشَأِ اللَّهُ يُضْلِلْهُ وَمَنْ يَشَأْ يَجْعَلْهُ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

الْأَنْعَامِ/59

“Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk diberi-Nya petunjuk), niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus”. (QS. Al An’am: 59)

Dia juga berfirman:

  مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِي وَمَنْ يُضْلِلْ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

الْأَعْرَافِ/178  

“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi”. (QS. Al A’raf: 178)

Seorang muslim berdoa di dalam shalatnya:

  اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

الفاتحة/6 

“Tunjukilah kami jalan yang lurus”. (QS. Al Fatihah: 6)

Karena dia mengetahui bahwa hidayah itu berada di tangan Allah Ta’ala, dan bersamaan dengan itu, maka seorang hamba diminta untuk menjemput sebab-sebab hidayah, diminta untuk bersabar, teguh dan memulai dengan jalan istiqomah, maka Allah telah memberinya akal yang jernih, keinginan yang bebas, dengan itu ia akan memilih yang baik dari yang buruk, memilih petunjuk dari pada kesesatan, maka jika ia telah melaksanakan sebab-sebab yang sebenarnya, dan ia berusaha agar Allah senantiasa memberinya hidayah yang sempurna, taufik juga akan datang dari Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman:

  وَكَذَلِكَ فَتَنَّا بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لِيَقُولُوا أَهَؤُلَاءِ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَيْنِنَا أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِالشَّاكِرِينَ

الْأَنْعَام/153

“Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang yang kaya) dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata: "Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka?" (Allah berfirman): "Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?". (QS. Al An’am: 153)

Syeikh Ibnu Utsaimin –rahimahullah- telah menjelaskan dengan panjang lebar tentang masalah ini yang bagi sebagian orang dianggap rumit:

“Jika masalah tersebut kembali kepada kehendak Allah Allah Tabaraka wa Ta’ala dan semua urusan ada di tangan-Nya, maka apa yang menjadi jalan manusia ?, dan bagaimanakah cara manusia jika Allah telah mentakdirkannya menjadi tersesat dan tidak mendapatkan hidayah ?

Maka kami katakan:

“Jawaban dalam masalah tersebut bahwa Allah Tabaraka wa Ta’ala Dia akan memberian hidayah kepada mereka yang berhak mendapatkan hidayah, dan menyesatkan mereka yang berhak menjadi sesat, Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman:

  فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ

الصف/5

“Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka”. (QS. As Shaff: 5)

Firman Allah yang lain:

 فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَنَسُوا حَظّاً مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ

المائدة/13

“ (Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya”. (QS. Al Maidah: 13)

Maka Allah Tabaraka wa Ta’ala telah menjelaskan sebab-sebab penyesatan-Nya kepada orang yang tersesat, hal ini disebabkan oleh hamba tersebut, seorang hamba tidak mengetahui apa yang telah Allah takdirkan kepadanya; karena ia tidak mengetahui takdir kecuali setelah terjadinya takdir tersebut. Ia tidak mengetahui apakah Allah telah mentakdirkannya untuk menjadi tersesat atau mendapatkan hidayah ?

Maka bagaimana ia akan menjalani jalan kesesatan kemudian ia beralasan bahwa Allah Ta’ala telah menginginkan hal itu kepadanya !

Apakah tidak sebaiknya baginya untuk menjalahi jalannya hidayah kemudian berkata: “Sungguh Allah Ta’ala telah memberiku hidayah kepada jalan yang lurus”.

Apakah dia layak untuk menjadi jabariyah pada saat tersebut dan menjadi qadariyah dalam kondisi taat, sekal-kali tidak. Tidak layak bagi seorang manusia untuk menjadi seorang jabariyah pada saat tersesat dan bermaksiat, jika ia tersesat atau durhaka kepada Allah ia berkata: “Perkara ini sudah ditetapkan kepada saya, telah ditakdirkan kepada saya, tidak mungkin saya akan keluar dari takdir Allah Ta’ala”.

Manusia pada dasarnya mempunyai kemampuan dan pilihan, tidaklah bab tentang hidayah ini lebih tersembunyi dari bab rizeki, seorang manusia sebagaimana diketahui bagi semua telah ditakdirkan kepadanya rizeki yang telah ditentukan, bersamaan dengan itu ia berusaha untuk melaksanakan sebab-sebab (mendapatkan) rizeki di daerahnya dan di luar daerahnya baik ke arah kanan maupun ke arah kiri, tidak duduk di dalam rumahnya dan berkata: “Jika rizeki telah ditakdirkan kepadaku, maka ia akan mendatangiku”, akan tetapi ia berusaha untuk melaksanakan sebab-sebab datangnya rizeki karene rizeki itu sendiri berkaitan dengan amal, sebagaimana riwayat yang telah ditetapkan dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Rizeki tersebut juga tertulis, sebagaimana amal sholeh atau buruk pun tertulis, maka bagaimana anda bisa pergi ke kanan dan ke kiri dan mengelilingi bumi dan padang yang luas untuk mencari rizeki  dunia, dan anda tidak mengamalkan amal sholih untuk mencari rizeki akhirat dan sukses dengan alam kenikmatan !!.

Sungguh dua pintu itu satu, tidak ada perbedaan di antara keduanya, sebagaimana anda berusaha untuk mendapatkan rizeki, berusaha untuk kehidupanmu, panjangnya umurmu, maka jika anda sakit dengan penyakit tertentu, anda pergi ke ujung dunia karena menginginkan dokter yang pandai yang mengobati penyakit anda, bersamaan dengan itu maka bagi anda apa yang telah ditakdirkan dari ajal tidak bertambah dan tidak berkurang, dan tidaklah anda bersandar kepada hal ini dan berkata: “Saya tetap tinggal di rumah dalam kondisi sakit terlantar, jika Allah telah mentakdirkan tambahan ajal kepadaku maka akan bertambah”. Akan tetapi kami dapatkan anda berusaha semampu anda dari kekuatan, pencarian untuk mencari dokter yang menurut anda menjadi manusia terdekat agar Allah mentakdirkan kesembuhan anda (melalui) dokter tersebut.

Maka kenapa amal anda di jalan akhirat dan di dalam amal sholih tidak seperti jalan anda dalam beramal untuk dunia ?

Telah disebutkan sebelumnya bahwa sungguh qadha’ adalah rahasia tersembunyi tidak mungkin anda akan mengetahuinya.

Maka anda saat ini berada di antara kedua jalan:

  • Jalan yang menjadikan anda menuju keselamatan, menuju kesuksesan , kebahagiaan, dan kemuliaan.
  • Dan jalan yang akan menjadikan anda menuju kehancuran, penyesalan dan kehinaan.

Anda sekarang berdiri di antara keduanya dan diberi pilihan, tidak ada yang melarang anda untuk menjalani jalan kanan, juga untuk menjalani jalan kiri, jika anda mau anda bisa ke sini dan jika anda mau anda bisa ke sana.

Dengan ini menjadi jelas bahwa manusia itu berjalan di atas amal pilihannya sesuai dengan pilihannya, sebagaimana ia berjalan dengan amal dunianya dengan cara pilihan, maka demikian juga jalannya menuju akhirat akan berjalan sesuai dengan pilihannya, bahkan jalannya akhirat jauh lebih jelas dari pada jalannya dunia; karena yang menjelaskan jalannya akhirat adalah Allah Ta’ala di dalam kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Maka jalannya akhirat harus jauh lebih jelas, jauh lebih terang dari pada jalannya dunia. Bersamaan dengan itu sungguh manusia berjalan di atas jalan dunia yang tidak ada jaminan akan hasilnya; akan tetapi dia meninggalkan jalan akhirat yang hasilnya terjamin dan diketahui; karena hal itu pasti dengan janji Allah, dan Allah Tabaraka wa Ta’ala tidak pernah mengingkari janji-Nya.

Setelah itu kami katakan, sungguh ahlus sunnah wal jama’ah telah menentukan hal ini, mereka telah menjadikan akidah dan madzhab mereka bahwa manusia melakukan aktifitas sesuai dengan pilihannya, ia berucap seperti yang ia inginkan, akan tetapi keinginan dan pilihannya keduanya mengikuti keinginan Allah Tabaraka wa Ta’ala dan kehendak-Nya.

Kemudian ahlus sunnah wal jama’ah beriman bahwa kehendak Allah Ta’ala mengikuti kebijaksanaan-Nya, bahwa Dia suhanahu wa ta’ala bukan kehendak-Nya yang lepas dan murni, akan tetapi kehendak yang mengikuti pada kebijaksanaan-Nya; karena salah satu nama-nama Allah adalah Yang Maha Bijaksana, al Hakiim adalah Yang Maha Memutuskan yang memutuskan sesuatu secara kauniyah dan syar’iyyah, memutuskannya dalam perbuatan dan penciptaan, dan Allah Ta’ala dengan kebijaksanaan-Nya mentakdirkan hidayah bagi siapa saja yang Dia inginkan dan yang Dia ketahui bahwa ia menginginkan kebenaran, dan hatinya tetap dalam istiqamah. Dan mentakdirkan kesesatan bagi siapa yang tidak demikian, bagi siapa saja yang jika dipaparkan Islam kepadanya dadanya menjadi sempit seperti naik ke langit, sungguh hikmahnya Allah Tabaraka wa Ta’ala enggan untuk menjadikan orang ini termasuk yang mendapatkan hidayah, kecuali Allah memperbaharui tekad kepadanya dan mengubah keinginan-Nya menuju kehendak lain, dan Allah Ta’ala Maha Kuasa atas segala sesuatu, akan tetapi hikmah Allah enggan kecuali sebab-sebabnya terikat dengan musababnya”. (Risalah fii al Qadha’ dan Qadar: 14-21 dengan ringkasan)

Demikianlah seorang muslim memahami masalah iman kepada qadha’ dan qadar dengan masalah amal yang diperintahkan kepada manusia, yang akan menyebabkan kebahagiaannya atau kesengsaraannya, hidayah dan masuk surga itu sebabnya adalah amal sholeh. Allah Ta’ala berfirman tentang penduduk surga:

 وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

الأعراف/43

“Dan diserukan kepada mereka: "Itulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan." (QS. Al A’raf: 43)

Allah Ta’ala juga berfirman:

ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

النحل/32

“Masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan". (QS. An Nahl: 32)

Kesesatan dan masuk neraka penyebabnya adalah kemaksiatan kepada Allah dan berpaling dari ketaatan kepada-Nya, Allah Ta’ala berfirman tentang penduduk neraka:

  ثُمَّ قِيلَ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا ذُوقُوا عَذَابَ الْخُلْدِ هَلْ تُجْزَوْنَ إِلَّا بِمَا كُنْتُمْ تَكْسِبُونَ

يونس/52

“Kemudian dikatakan kepada orang-orang yang zalim (musyrik) itu: "Rasakanlah olehmu siksaan yang kekal; kamu tidak diberi balasan melainkan dengan apa yang telah kamu kerjakan." (QS. Yunus: 52)

Allah Ta’ala berfirman:

 وَذُوقُوا عَذَابَ الْخُلْدِ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

السجدة/14

“dan rasakanlah siksa yang kekal, disebabkan apa yang selalu kamu kerjakan". (QS. As Sajadah: 14)

Pada hari itu maka seorang muslim meletakkan langkah pertamanya pada jalan yang benar, maka ia tidak akan menghilangkan sesaat pun tanpa amal atau usaha di jalan Allah ‘Azza wa Jalla, dan pada waktu bersamaan ia bertawadhu’ kepada Rabb nya, dan mengetahui bahwa Allah ‘Azza wa Jalla berada di tangan-Nya pergerakan langit dan bumi, maka ia selalu merasa butuh kepada-Nya selalu dan selamanya, dan butuh kepada taufik dan bimbingan-Nya.

Semoga Allah Ta’ala menetapkan kepada kami dan kepada anda semua hidayah dan menuntun kita pada semua kebaikan.

Wallahu A’lam

Refrensi: Soal Jawab Tentang Islam

Kirim Catatan