Sabtu 7 Rabi'uts Tsani 1440 - 15 Desember 2018
Indonesian

Mencintai Ayahanda Yang Sudah Meninggal Dunia Dan Ingin Berbuat Baik Kepadanya

Pertanyaan

Saya menyampaikan pertanyaan kepada anda ini di tengah perasaan galau pasca meninggalnya ayah saya sejak dua tahun yang lalu. Sementara ayah saya termasuk yang agak teledor akan kewajibannya kepada Allah, di antaranya adalah:

  1. Beliau tidak selalu menjaga shalat lima waktu, terkadang beliau shalat dan terkadang beliau tidak shalat karena malas, bukan karena mengingkari wajibnya shalat.
  2. Beliau jarang berpuasa Ramadhan dengan alasan karena sakit, dan selalu mengkonsumsi obat jantung, atau karena lemah tidak mampu melaksakan, akan tetapi beliau termasuk perokok, saya mengira penyebab beliau tidak berpuasa adalah karena sulitnya meninggalkan rokok.
  3. Dahulu kami mempunyai toko, dan menurut sepengetahuan saya beliau tidak mengeluarkan zakat dari barang-barang yang ada di toko tersebut, secara ekonomi kami mengalami kesulitan, bisnis kami juga tidak mendapatkan keuntungan, toko pun akhirnya terjual.
  4. Sepertinya beliau pernah mempunyai sejumlah harta yang memungkinkannya untuk pergi haji, namun beliau tidak melaksanakannya. Beliau selalu menyampaikan kepada saya bahwa beliau ingin pergi haji akan tetapi beliau tidak bisa. Beliau mempunyai banyak masalah dan berbahaya di kedua matanya, beliau sangat menghindari sinar matahari langsung dan kecapean. Namun setelah beliau meninggal dunia ada sebagian orang yang menghajikan beliau sepertinya ada tiga orang dan bukan berasal dari kerabatnya.

Saya sangat mencintai ayah saya, semua yang mengenalnya juga mencintainya.

Oleh karenanya saya berharap kepada anda agar menjelaskan kepada saya tentang apa yang memungkinkan saya kerjakan sebagai bakti saya kepada ayah saya, saya mencintainya dan mengkhawatirkan beliau tertimpa adzab kubur dan adzab pada hari kiamat.

Teks Jawaban

Alhamdulillah

Jika anda ingin berbakti dan memberikan sesuatu yang bermanfaat kepada ayah anda setelah beliau meninggal dunia, maka anda bisa melakukan beberapa hal berikut ini:

  1. Mendoakannya dengan tulus, Allah –ta’ala- berfirman:

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ . رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ (سورة إبراهيم: 40-41)

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah do`aku. Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mu'min pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)". (QS. Ibrahim: 40-41)

Dari Abu Hurairah Berkata: “Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

إذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ ) رواه مسلم، رقم 1631)

“Jika seorang manusia meninggal dunia terputuslah semua amalnya kecuali 3 perkara: 1) shadaqah jariyah, 2). Atau ilmu yang bermanfaat, 3) atau anak shaleh yang mendoakannya”. (HR. Muslim: 1631)

Dari Abu Hurairah Berkata: “Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

 إِنَّ الله تَبَارَكَ وتَعالى لَيَرْفَعُ لِلرَّجُلِ الدَّرَجَةَ ، فَيَقُولُ : أَنَّى لِي هَذِهِ ؟ فَيَقُولُ : بِدُعَاءِ وَلَدِكَ لك (رواه الطبراني، ص: 375 وعزاه الهيثمي في مجمع الزوائد، 10/234 للبزار، ورواه البيهقي في السنن الكبرى، 7/78)

“Sesungguhnya Allah –Tabaraka wa Ta’ala- akan mengangkat derajat seseorang. Maka orang itu bertanya, “Dari mana saya mendapatkan semua ini?” Maka Allah berfirman: “Dari doa anakmu”. (HR. Thabrani pada bab doa: 375, disebutkan juga oleh Al Haitsami dalam Majma’ Zawaid (10/234) karya Al Bazzar, dan Baihaqi di dalam As Sunan Al Kubro (7/78)

Imam Adz Dzahabi berkata di dalam Al Muhadzab (5/2650) bahwa sanadnya kuat, Al Haitsami berkata: “Para perawinya adalah para perawi hadits shahih kecuali ‘Ashim bin Bahdalah beliau termasuk baik ucapannya)

  1. Bershadaqah atas nama beliau,
  2. Melaksanakan haji dan umrah atas nama beliau, menghadiahkan pahala keduanya untuk beliau, untuk masalah ini telah kami rinci pembahasannya di website kami pada jawaban soal nomor: 12652.
  3. Melunasi hutangnya, sebagaimana telah dilakukan oleh Jabir dengan hutang ayahandanya Abdullah bin Haram –radhiyallahu ‘anhuma- setelah diperintah oleh Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, kisah ini diriwayatkan oleh Bukhari: 2781.

Adapun puasa Ramadhan yang telah beliau tinggalkan dan pembayaran zakat maka hal ini termasuk yang tidak mungkin dikerjakan oleh anaknya, jika seorang muslim bersengaja teledor pada dua kewajiban tersebut, maka dia harus menanggung dosanya, tidak bisa seseorang menanggung orang lain, seperti halnya juga shalat maka tidak bisa shalat seseorang menggantikan shalat orang lain.

Allah –‘azza wa jalla- telah mengabarkan kepada kita bahwa seorang muslim akan diberi balasan dari perbuatannya, jika baik maka akan mendapatkan balasan kebaikan, dan jika buruk maka akan mendapatkan balasan keburukan. Allah –Ta’ala berfirman:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ . وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (سورة الزلزلة: 7-8)

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula”. (QS. Al Zalzalah: 7-8)

Kecuali jika Allah mengampuni keburukan dengan rahmat dan karunia-Nya.

Hanya saja zakat itu mirip dengam hutang, nah zakat ini menjadi hak para mustahik zakat, maka anda wajib mengira-ngira seberapa banyak zakat beliau yang belum dibayarkan selama masa hidupnya, lalu anda yang membayarkannya, semoga hal itu akan menjadi sebab yang meringankan di alam kubur.

Semoga Allah memberikan balasan yang baik kepada anda yang telah mencintai ayah anda dan upaya untuk berbakti kepadanya dan berharap agar Allah mengampuninya.

Wallahu A’lam

Refrensi: Soal Jawab Tentang Islam

Kirim Catatan