Iman seorang Muslim tidak sempurna hingga ia menetapkan bagi Rabbnya apa yang Dia tetapkan untuk diri-Nya sendiri, baik berupa nama, sifat, maupun perbuatan. Di antara nama Allah yang tetap adalah Al-Hakim (Maha Bijaksana) dan sifat-Nya adalah Al-Hikmah (Kebijaksanaan). Allah tidak menciptakan makhluk kecuali karena hikmah, dan tidak menetapkan syariat kecuali ada hikmah di baliknya. Tidak mesti akal hamba selalu dapat menjangkau seluruh hikmah tersebut; terkadang Allah menampakkan sebagian hikmah itu kepada hamba-hamba-NYa, terkadang menyembunyikan sebagian lainnya, sebagai ujian bagi penghambaan dan ketundukan mereka kepada Rabbnya.
Kedua.
Allah telah menakdirkan penciptaan Malaikat tanpa nafsu untuk bermaksiat. Tekad mereka sepenuhnya tercurah untuk ketaatan kepada Rabb semesta alam. Mereka tidak memiliki ujian di dunia, dan tidak ada hisab maupun balasan bagi mereka di akhirat.
Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan makhluk-Nya dalam beberapa tingkatan (fase). Dia menciptakan malaikat (sebagai makhluk yang memiliki) akal tanpa syahwat bagi mereka, serta tanpa tabiat yang menuntut mereka melakukan hal yang menyelisihi apa yang diinginkan, dari materi cahaya yang tidak menuntut sedikit pun dari dampak-dampak dan tabiat-tabiat yang tercela. Dan Dia menciptakan hewan-hewan (sebagai makhluk) yang memiliki syahwat namun tidak memiliki akal. Dan Dia menciptakan At-Tsaqalain (dua makhluk yang dibebani syariat) yaitu jin dan manusia, serta menanamkan pada diri mereka akal, syahwat, dan tabiat yang berbeda-beda untuk dampak-dampak yang berbeda pula sesuai dengan materi, bentuk, dan susunan mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang menerima ujian dan cobaan, dan mereka jugalah yang dihadapkan pada pahala dan siksaan. Dan seandainya Dia berkehendak, niscaya Dia akan menjadikan makhluk-Nya di atas tabiat satu ciptaan saja dan tidak membeda-bedakan di antara mereka. Akan tetapi, apa yang Dia lakukan adalah murni hikmah, konsekuensi dari Rububiyah, serta tuntutan dari Uluhiyah.” (Thariq Al-Hijratain, hal. 203).
Ketiga.
Malaikat yang mulia adalah salah satu makhluk Allah Ta’ala, hamba-hamba yang dimuliakan, mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka, dan mereka mengerjakan apa yang diperintahkan. Tuhan membebani mereka dengan apa yang Dia kehendaki. Dan apabila Anda telah mengetahui tugas-tugas dan amal-amal yang dilakukan oleh para makhluk mulia itu, maka itulah hikmah dari penciptaan mereka, dan secara garis besar amal-amal serta tugas-tugas ini ada tiga:
Pertama, beribadah, mengagungkan dan mensucikan Allah. Allah Ta’ala berfirman,
يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لَا يَفْتُرُونَ
الأنبياء/ 20
"Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya." (QS. Al-Anbiya’: 20).
Allah juga berfirman melalui lisan para malaikat yang mulia,
وَإنَّا لَنَحْنُ الصَّافُّونَ . وَإِنّا لَنَحْنُ المُسَبِّحُونَ
الصافات/ 165 ، 166 .
“Sesungguhnya kamilah yang selalu teratur dalam barisan (dalam melaksanakan perintah Allah). Sesungguhnya kamilah yang benar-benar terus bertasbih (kepada Allah).” (QS. As-Shaffat: 165-166).
عَن أَبِي ذَرٍّ رَضي اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : إِنِّي أَرَى مَا لَا تَرَوْنَ وَأَسْمَعُ مَا لَا تَسْمَعُونَ ، أَطَّتْ السَّمَاءُ وَحُقَّ لَهَا أَنْ تَئِطَّ ، مَا فِيهَا مَوْضِعُ أَرْبَعِ أَصَابِعَ إِلَّا وَمَلَكٌ وَاضِعٌ جَبْهَتَهُ سَاجِدًا لِلَّهِ رواه الترمذي ( 2312 ) وابن ماجه ( 4190 ) ، وحسَّنه الألباني في " صحيح الترمذي " .
Diriwayatkan dari Abu Dzarr Radhiyallahu 'Anhu, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda, “Sesungguhnya aku melihat apa yang tidak kalian lihat dan mendengar apa yang tidak kalian dengar. Langit merintih dan layak baginya untuk merintih. Tidak ada satu tempat seukuran empat jari melainkan di sana ada malaikat yang meletakkan dahinya bersujud kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi, no. 2312 dan Ibnu Majah, no. 4190, dan dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi).
Kedua, melaksanakan urusan makhluk Allah Ta’ala dan kerajaan-Nya dengan izin Tuhan mereka dan penugasan-Nya. Di antara malaikat ada yang ditugaskan memikul Arsy; jumlah mereka ada delapan. Di antara mereka ada yang ditugaskan menyampaikan wahyu, penjaga surga, penjaga neraka, ada malaikat (pembagi) rezeki, dan begitulah seterusnya dalam rangkaian amal-amal mulia yang ditugaskan oleh Rabb Subhanahu wa Ta’ala kepada mereka.
Ketiga, melaksanakan urusan bani Adam dengan izin Tuhan mereka dan penugasan-Nya. Di antara malaikat ada yang menjaga bani Adam, ada yang mencatat amal-amal bani Adam, ada yang ditugaskan untuk mencabut nyawa, untuk bertanya kepada mayit di kuburnya, dan yang memohonkan ampun bagi orang-orang beriman, dan begitulah seterusnya dalam rangkaian amal-amal mulia yang berkaitan dengan anak Adam. Lihatlah jawaban dari pertanyaan nomor 287569 . Anda dapat merujuk rincian yang berkaitan dengan malaikat dalam kitab ‘Alam Al-Mala'ikah Al-Abrar karya Syaikh Dr. Umar Sulaiman Al-Asyqar Hafidzahullah, yang merupakan kitab penting dan komprehensif di bidangnya.
Keempat, adapun perkataan Anda, “Lalu, ketika Allah menciptakan Iblis, apakah Allah sudah mengetahui akhir hidupnya dan masa depannya di bumi?” maka ketahuilah —pertama—bahwa tidak sah Islam seorang hamba kecuali dia beriman bahwa Allah Ta’ala mengetahui apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi, serta apa yang tidak terjadi seandainya terjadi maka bagaimana jadinya. Dan barangsiapa yang ragu terhadap sesuatu dari hal tersebut: maka dia kafir kepada Allah Yang Maha Agung. Bukankah Anda membaca firman Allah Ta’ala,
عَالِمِ الْغَيْبِ لا يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلا فِي الْأَرْضِ وَلا أَصْغَرُ مِنْ ذَلِكَ وَلا أَكْبَرُ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
(سبأ/ 3 ).
“Yang mengetahui yang gaib. Tidak ada tersembunyi dari-Nya sebesar zarrah pun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." (QS. Saba’: 3), dan firman Allah Ta’ala,
لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا
الطلاق/ 12
“Agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah benar-benar meliputi segala sesuatu ilmu-Nya.” (QS. At-Thalaq: 12), dan firman-Nya,
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ
(المجادلة/ 7 ).
"Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi?" (Al-Mujadilah: 7), dan firman-Nya,
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
(الحديد/ 3)
"Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. Al-Hadid: 3)?!
Di manakah posisi Anda dari ayat-ayat ini dan ratusan ayat yang semisalnya, serta ratusan hadits?!
Kelima, adapun perkataan Anda, “Dan apakah Allah tidak mampu menciptakan Iblis di atas hidayah (mendapat petunjuk) yang Allah kehendaki baginya?” maka ini juga hal yang mengherankan dari diri Anda. Jika Anda seorang muslim, bagaimana mungkin Anda beriman kepada Tuhan yang lemah? Dan bagaimana mungkin Anda beriman —kalau begitu— kepada Tuhan yang menciptakan malaikat sebagai hamba-hamba yang taat lalu terjadilah apa yang Allah Ta’ala inginkan dari mereka? Dan telah kami sebutkan kepada Anda di awal jawaban bagaimana berbeda penciptaan Iblis dan Adam dari penciptaan malaikat. Bahkan ini —wahai penanya— termasuk apa yang membimbing Anda pada kesempurnaan kekuasaan Allah Jalla Jalaluhu dan keagungan kerajaan-Nya, karena Dia menciptakan dari makhluk-Nya yang tidak mendurhakai-Nya sekejap mata pun, bahkan selalu taat kepada-Nya, yaitu para malaikat. Dia menciptakan yang tidak menaati perintah-Nya selamanya, bahkan mendurhakai-Nya, kafir kepada-Nya, menentang perintah-Nya, yaitu para setan. Dia juga menciptakan yang mengumpulkan di antara dua sifat, yaitu iman dan kafir, ketaatan dan kemaksiatan, yaitu bani Adam. Dan semuanya adalah makhluk Allah. Seandainya Dia berkehendak, niscaya Dia jadikan mereka di atas satu Millah (ajaran), satu penciptaan, dan satu agama. Akan tetapi hikmah dan kekuasaan-Nya menuntut hal tersebut, dan Dia Maha Terpuji atas segala perbuatan-Nya, segala firman-Nya, dan segala ciptaan-Nya.
لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ
(الأنبياء/23 )
“Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai." (QS. Al-Anbiya’: 23).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Dan Dia (Allah) Subhanahu wa Ta’ala adalah Pencipta segala sesuatu, Tuhannya dan Penguasanya, dan bagi-Nya pada apa yang Dia ciptakan terdapat hikmah yang mendalam, nikmat yang luas, serta rahmat yang umum dan khusus. Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat dan merekalah yang akan ditanyai, bukan semata-mata karena kekuasaan dan pemaksaan-Nya, melainkan karena kesempurnaan ilmu, kekuasaan, rahmat, dan hikmah-Nya.” (Majmu’ Al-Fatawa, 8/79).
Keenam, ketahuilah bahwa setiap orang yang sesat dari jalan yang lurus, sesungguhnya telah datang kepadanya petunjuk (hidayah), akan tetapi dialah yang enggan dan sombong untuk mengikutinya. Maka hidayah berupa penjelasan dan bimbingan (Dalalah wa Irsyad) telah sampai kepada mereka, dan dengannya Allah Ta’ala telah tegakkan hujah atas mereka, namun mereka enggan untuk tunduk dan mengikutinya, maka terjadilah kesesatan dari mereka. Maka hidayah dan penjelasan-Nya telah merata bagi makhluk, dan hujah Allah telah tegak atas mereka, sebagaimana firman-Nya,
قُلْ فَلِلَّهِ الْحُجَّةُ الْبَالِغَةُ فَلَوْ شَاءَ لَهَدَاكُمْ أَجْمَعِينَ
الأنعام/149
"Katakanlah, ‘Hanya bagi Allah-lah hujah yang kuat; maka jika Dia menghendaki, pasti Dia memberi petunjuk kepada kamu semuanya.’” (QS. Al-An’am: 149).
Ibnu Al-Qayyim rahimahullah berkata, “Maka Dia (Allah Subhanahu wa Ta’ala) mengabarkan bahwa hujah adalah milik-Nya atas mereka melalui rasul-rasul-Nya dan kitab-kitab-Nya, serta penjelasan tentang apa yang bermanfaat dan membahayakan mereka. Allah juga memberikan kemampuan kepada mereka untuk beriman dengan mengetahui perintah dan larangan-Nya, serta memberikan mereka pendengaran, penglihatan, dan akal. Maka tetaplah hujah-Nya yang kuat atas mereka dengan hal tersebut, dan lenyaplah hujah mereka yang batil terhadap-Nya dengan alasan Masyi’ah (kehendak) dan Qadha-Nya. Kemudian Dia mengukuhkan kesempurnaan hujah dengan firman-Nya,
فَلَوْ شَاءَ لَهَدَاكُمْ أَجْمَعِينَ
‘Maka jika Dia menghendaki, pasti Dia memberi petunjuk kepada kamu semuanya,’
karena hal ini mengandung arti bahwa Dia-lah satu-satunya pemilik Rububiyah, Kerajaan, dan pengaturan pada makhluk-Nya, dan bahwa tidak ada Tuhan selain-Nya, dan tidak ada Ilah kecuali Dia; maka bagaimana mereka menyembah tuhan lain bersama-Nya?! Maka menetapkan takdir dan kehendak (Allah) termasuk kesempurnaan hujah-Nya yang kuat atas mereka, dan bahwa segala urusan adalah milik Allah, dan segala sesuatu selain Allah adalah batil. Maka Qadha, Qadar, dan Masyi’ah yang terlaksana termasuk dalil tauhid yang paling agung. Namun orang-orang zalim yang ingkar menjadikannya hujah bagi mereka atas kesyirikan. Maka jadilah hujah Allah itulah yang kuat, dan hujah mereka itulah yang kalah. Dan hanya kepada Allah-lah taufiq itu bersumber.” (Syifa' Al-'Alil, 35).
Kami berpesan kepada Anda -wahai penanya-, untuk menuntut ilmu syar’i, dan mengetahui apa yang bermanfaat bagi Anda dalam agama dan kedekatan Anda dengan Tuhan. Curahkanlah waktu Anda untuk menghafal Al-Qur'an dan perbanyaklah melihat hadis-hadis Nabi Anda, Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, serta telaahlah biografi ulama salafusshalih dan para ulama umat Islam ini, niscaya Anda akan melihat —dengan izin Allah—kebaikan yang banyak. Karena jam-jam dalam umur ini terlalu berharga untuk kita sia-siakan pada hal yang tidak ada manfaatnya, dan umur itu terbatas untuk kita lalaikan pada hal yang mungkin membahayakan kita pada hari kita berjumpa dengan Tuhan kita.
Dan yang paling besar yang kami pesankan adalah hendaknya Anda memperbanyak zikir kepada Allah Ta’ala di waktu malam dan siang, serta bersungguh-sungguh dalam menaati-Nya. Karena setan itu adalah Waswas Khannas (pembisik yang lari bersembunyi). Jika Anda mengingat Allah, dia lari bersembunyi dari Anda dan melemah. Namun jika Anda lalai dari mengingat-Nya dia akan muncul di hadapan Anda dan menyibukkan Anda dengan was-was dan lintasan pikiran (yang buruk).
Wallahu A’lam.