Ahad 8 Rabi'uts Tsani 1440 - 16 Desember 2018
Indonesian

Lafadz Takbiran Dalam Shalat Idul Fitri dan Idul Adha

Pertanyaan

Dalam shalat idul adha umat Islam mengumandangkan takbir dengan lafadz seperti ini:
(الله اكبر ، الله أكبر ، لا اله إلا الله ، الله أكبر ، الله أكبر ولله الحمد , الله أكبر كبيراً ، والحمد لله كثيراً ، وسبحان الله بكرة وأصيلاً ، لا اله إلا الله وحده ، صدق وعده ، ونصر عبده ، وأعز جنده ، وهزم الأحزاب وحده ، لا اله إلا الله ولا نعبد إلا إياه مخلصين له الدين ولو كره الكافرون)
Mereka mengulang-ngulanginya pada saat shalat id dan di masjid-masjid setelah shalat lima waktu. Apakah lafadz takbiran di atas sudah benar?, dan apabila salah maka bagaimanakah yang sebenarnya?

Teks Jawaban

Alhamdulillah

Adapun takbiran dengan lafadz:

" الله أكبر ، الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله ، والله أكبر الله أكبر ولله الحمد "

Dasarnya adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu- dan yang lainnya, baik dengan diawali tiga kali takbir atau dengan dua kali takbir. (Al Mushannif, Ibnu Abi Syaibah: 2/165-168, da Irwaul Ghalil: 3/125)

Sedangkan takbiran dengan lafadz:

" اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا ... إلخ " :

Imam Syafi’i –rahimahullah- mengatakan: “Apabila seseorang menambahkan dengan lafadz:

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا اللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا اللَّهَ مُخْلِصِينَ له الدَّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ

maka lafadz tersebut adalah baik”. (al Umm: 1/241)

Abu Ishak asy Syairazi mengatakan dalam “al Muhadzab: 1/121”: “Karena Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengucapkan lafadz tersebut di atas bukit Shafa”.

Ini adalah termasuk  perkara yang luas, karena perintah bertakbir sifatnya muthlaq (umum), Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidak mengkhususkan lafadz tertentu. Allah berfirman:

(وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ) البقرة/185 

“Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu.” SQ. Al-Baqarah: 185.

Maka sunnahnya adalah bertakbir, dengan lafadz apapun.

Imam ash Shan’ani –rahimahullah- berkata: “…dan dalam penjelasannya banyak sekali sifat takbir untuk hari raya dari beberapa para ulama, ini menunjukkan longgarnya perintah bertakbir, keumuman ayat juga menunjukkan hal tersebut”. (Subulus Salam: 2/72)

Ibnu Habib berkata: “Yang paling saya sukai dari sifat takbir adalah:

الله أكبر ، الله أكبر ، لا إله إلا الله والله أكبر ، ولله الحمد على ما هدانا ، اللهم اجعلنا لك من الشاكرين

Ashbagh menambahkan dengan lafadz:

الله أكبر كبيراً ، والحمد لله كثيراً ، وسبحان الله بكرة وأصيلاً ، ولا حول ولا قوة إلا بالله

Lalu dia mengatakan: Baik engkau tambahi, atau dikurangi lafadz takbir tersebut dengan lafadz yang lain tidak ada masalah. (‘Iqdul Jawahir Tsaminah: 3/242)

Sahnun berkata: “Saya pernah berkata kepada Ibnul Qasim: Apakah Imam Malik menyebutkan kepada anda lafadz takbir tertentu?. Dia menjawab: Tidak, tidaklah Imam Malik membatasi dalam masalah ini dengan batasan tertentu”. (al Mudawwanah: 1/245)

Imam Ahmad berkata: “ini adalah perkara yang luas”. Ibnul Arabi mengatakan: “Ulama kami memilih takbir secara umum, inilah makna yang dzahir dari perintah bertakbir dalam al Qur’an, dan saya lebih cenderung kepada pendapat ini”. (al Jami’ li Ahkamil Qur’an: 2/307)

Beberapa lafadz takbir menurut ulama salaf adalah:

1. " الله أكبر ، الله أكبر ، الله أكبر ، ولله الحمد ، الله أكبر وأجل ، الله أكبر على ما هدانا "

(HR. Baihaqi: 3/315, dari Ibnu Abbas –radhiyallahu ‘anhu-, dan dishahihkan al Bani dalam “Irwaul Ghalil: 3/126”)

2.Ibnu Hajar dalam Fathul Bari: 2/462, berkata: Adapun lafadz takbir yang paling shahih adalah yang diriwayatkan oleh Abdur Razzaq dengan sanad yang shahih dari Sulaiman:

" كبروا الله : الله أكبر ، الله أكبر ، الله أكبر كبيراً "

Mencukupkan diri dengan apa yang diriwayatkan oleh para sahabat –radhitallahu ‘anhum- lebih utama.

Wallahu a’lam

Untuk penjelasan lanjutan lihatlah jawaban soal nomor: 36442.

Refrensi: Soal Jawab Tentang Islam

Tema-tema Terkait

Kirim Catatan