Jum'ah 21 Sya'ban 1440 - 26 April 2019
Indonesian

Tempat Berdoa di Dalam Shalat ?

Pertanyaan

Di mana saja tempat-tempat berdoa di dalam shalat ?

Teks Jawaban

Alhamdulillah

Tempat-tempat berdoa di dalam shalat dibagi dua macam:

Pertama:

Tempat-tempat yang ada dalil-dalil khsusus yang menganjurkan dan memerintahkannya, disunnahkan bagi orang yang shalat untuk memperpanjang sesuai dengan yang ia kehendaki. Maka ia memohon kepada Allah –Ta’ala- semua kebutuhannya yang umum dan apa saja yang ia sukai dari kebaikan dunia dan akhirat.

Posisi pertama:

Pada saat sujud, dalilnya adalah sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-:

  أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

رواه مسلم (482(

“Tempat dimana seorang hamba menjadi dekat dengan Tuhannya adalah dalam kondisi bersujud, maka perbanyaklah berdoa”. (HR. Muslim: 482)

Posisi kedua:

Setelah tasyahud akhir sebelum salam, dalilnya adalah hadits Ibnu Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu- bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah mengajarkan kepada mereka tasyahud lalu beliau bersabda pada akhirnya:

  ثُمَّ يَتَخَيَّرُ مِنَ الْمَسْأَلَةِ مَا شَاءَ

رواه البخاري (5876) ومسلم (402(

“Kemudian ia memilih untuk memohon apa saja yang dia inginkan”. (HR. Bukhori: 5876 dan Muslim: 402)

Posisi ketiga:

Pada saat qunut witir, dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud: 1425 dari Hasan bin Ali –radhiyallahu ‘anhuma- berkata:

 

عَلَّمَنِي رَسُولُ صَلَّى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَاتٍ أَقُولُهُنَّ فِي قنوت الْوِتْرِ :

 اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ ، وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ ، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ ، إِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ ، وَإِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ ، وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ

 

وصححه الألباني في " صحيح أبي داود " برقم (1281) .

“Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah mengajarkan kepadaku beberapa kalimat yang saya baca pada saat qunut witir: “Ya Allah beri aku hidayah sehingga aku termasuk orang yang mendapat hidayah, beri aku keselamatan sehingga aku termasuk orang yang selamat, jadikanlah aku mencintai-Mu sehingga aku termasuk diantara orang-orang yang mencintai-Mu, berkahilah apa-apa yang engaku berikan kepadaku, lindungilah aku dari takdir yang buruk, sungguh engkau lah yang menetapkan taqdir dan tidak ada selain-Mu yang menetapkan takdir, karena orang yang engkau cintai tak akan terhinakan, dan orang yang engkau musuhi tidak akan mulia. Maha Suci dan Maha Tinggi engkau Rabb kami” (HR. Dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Abu Daud, nomor: 1281)

Kedua:

Ada beberapa tempat yang terdapat di dalam sifat shalat Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bahwa beliau berdoa di dalamnya, akan tetapi tidak dengan panjang juga tidak ada pengkhususan, juga tidak ada perintah untuk meminta kebutuhan umum, hanya saja beliau berdoa dengan kata terbatas dan kalimat yang bersanad, doa pada beberapa tempat ini mirip dengan dzikir-dzikir yang terikat dengan doa umum:

Posisi pertama:

Doa istiftah, setelah takbiratul ihram dan sebelum masuk memulai Al Fatihah

Posisi kedua:

Pada saat ruku’, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah bersabda:

 سبحانك اللهمّ ربنا وبحمدك اللهمّ اغفر لي

رواه البخاري (761) ومسلم (484) من حديث عائشة

“Maha suci Engkau Ya Allah, Tuhan kami dan dengan pujian kepada-Mu Ya Allah ampunilah diriku”. (HR. Bukhori: 761 dan Muslim: 484 dari hadits ‘Aisyah)

Imam Bukhori –rahimahullah- telah memasukkan hadits ini di dalam kitab Shahihnya di dalam bab: “Bab Doa di Dalam Ruku’”

Posisi ketiga:

Setelah bangkit dari ruku’, dalilnya adalah hadits Abdullah bin Ubay telah menepati janji kepada Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bahwa beliau bersabda:

  اللهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ مِلْءُ السَّمَاءِ ، وَمِلْءُ الْأَرْضِ ، وَمِلْءُ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ ، اللهُمَّ طَهِّرْنِي بِالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَالْمَاءِ الْبَارِدِ ، اللهُمَّ طَهِّرْنِي مِنَ الذُّنُوبِ وَالْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْوَسَخِ

رواه مسلم (رقم/476(

“Ya Allah, segala puji hanya bagi-Mu seluas langit dan seluas bumi dan seluas apa saja yang sesuai dengan kehendak-Mu setelahnya, Ya Allah sucikan diriku dengan es, embun dan air yang dingin, Ya Allah sucikan diriku dari dosa-dosa dan kesalahan sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran”. (HR. Muslim: 476)

Posisi keempat:

Di antara dua sujud, Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- berucap di antara dua sujud:

  اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ، وَارْحَمْنِي ، وَاجْبُرْنِي ، وَاهْدِنِي ، وَارْزُقْنِي

رواه الترمذي (284) وصححه الألباني في " صحيح الترمذي

“Ya Allah, ampunilah diriku, kasihanilah diriku, tutuplah aibku, berilah aku petunjuk, dan berilah rizeki kepadaku”. (HR. Tirmidzi: 284 dan dishahihkan oleh Albani di dalam Shahih Tirmidzi)

Imam Nawawi –rahimahullah- berkata:

“Penulis Tatimmah berkata: “Tidak harus dengan doa ini, akan tetapi doa apa saja yang dibaca maka ia sudah sesuai dengan sunnah, akan tetapi menggunakan yang ada di dalam hadits ini lebih utama”. (Al Majmu’: 3/437)

Ada doa pada saat berdiri di tengah bacaan, bisa jadi hanya pada saat shalat sunnah, sesuai dengan redaksi haditsnya, atau juga dibaca pada saat shalat fardhu dianalogikan dengan riwayat yang ada di dalam shalat sunnah, menurut sebagian para ulama.

Dalilnya adalah  hadits Hudzaifah –radhiyallahu ‘anhu- bahwa ia telah melaksanakan shalat bersama Nabi –shallallahu ‘alahi wa sallam- ia berkata:

  مَا مَرَّ بِآيَةِ رَحْمَةٍ إِلَّا وَقَفَ عِنْدَهَا فَسَأَلَ ، وَلَا بِآيَةِ عَذَابٍ إِلَّا وَقَفَ عِنْدَهَا فَتَعَوَّذَ

رواه أبو داود (رقم/871) وصححه الألباني في " صحيح أبي داود " .

“Tidaklah beliau melewati ayat rahmat kecuali beliau berhenti lalu berdoa, juga pada saat melewati ayat adzab beliau berhenti dan meminta perlindungan”. (HR. Abu Daud: 871 dan dishahihkan oleh Albani di dalam Shahih Abu Daud)

Doa juga bisa dilakukan pada saat qunut nazilah, hanya saja maksud dari doa tersebut adalah inti doa yang sesuai dengan situasi kejadian terkini, kalau ada doa lainnya maka sebagai pelengkap saja, semoga hal itu tidak apa-apa.

Al Hafidz Ibnu Hajar –rahimahullah- berkata:

“Yang bisa disimpulkan dari apa yang telah ditetapkan dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- tentang tempat-tempat berdoa yang beliau berdoa di dalam shalat adalah enam tempat, lalu ditambah dua tempat lainnya pada akhirnya:

Pertama:

Setelah takbiratul Ihram, dalam hal ini terdapat hadits Abu Hurairah di dalam Shahihain:

  اللهم باعد بيني وبين خطاياي ... الحديث 

“Ya Allah, jauhkan antara aku dengan dosa-dosaku….”. ( Al Hadits)

Kedua:

Pada saat i'tidal, dalam hal ini terdapat Ibnu Abi Aufa yang ada di dalam riwayat Muslim, bahwa ia mengatakan seteleh selesai membaca: “Min syaiin ba’du…”

اللهم طهرني بالثلج والبرد والماء البارد

“Ya Allah, sucikanlah diriku dengan es, embun dan air yang dingin”.

Ketiga:

Pada saat ruku’, dalam masalah ini terdapat hadits ‘Aisyah:

  كان يكثر أن يقول في ركوعه وسجوده سبحانك اللهم ربنا وبحمدك اللهم اغفر لي

أخرجاه

“Bahwa beliau memperbanyak membaca pada saat ruku’ dan sujud: “Maha suci Engkau Ya Allah, Tuhan kami dan dengan pujian kepada-Mu ampunilah diriku”.

Keempat:

Pada saat bersujud, ini merupakan tempat terbanyak beliau dalam berdoa dan telah memerintahkannya.

Kelima:

Di antara dua sujud,

 اللهم اغفر لي 

“Ya Allah, ampunilah diriku”.

Keenam:

Pada saar tasyahud, bahwa beliau berdoa di dalam qunut dan pada saat membaca: “Jika beliau melewati ayat  rahmah maka beliau memohon, dan jika melewati ayat adzab beliau meminta perlindungan”. (Fathul Baari: 11/132)

Dari semua tempat tersebut di atas yang sangat dianjurkan secara umum adalah pada dua tempat, yaitu; dalam kondisi sujud dan setelah tasyahud akhir.

Al Hafidz Ibnu Hajar –rahimahullah- berkata:

“Tempat berdoa di dalam shalat adalah pada saat sujud atau tasyahud”. (Fathul Baari: 11/186, baca juga pada: 2/318 pada kitab yang sama)

Syiekh Ibnu Baaz –rahimahullah- berkata:

“Tempat berdoa di dalam shalat adalah sujud dan pada tahiyyat akhir sebelum salam “. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baaz: 8/310)

Wallahu A’lam

Refrensi: Soal Jawab Tentang Islam

Kirim Catatan