Apakah Boleh Berpuasa Pada Hari Jum’at Saja ?

Pertanyaan 20049

Kalau Anda berkenan, apakah anda berkenan untuk memberitahukan kepada kami, apakah boleh kita berpuasa sunnah hanya pada hari jum’at saja ?

Ringkasan Jawaban

Dimakruhkan mengkhususkan hari Jumat untuk berpuasa, kecuali jika ia berpuasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya, atau bertepatan dengan hari Jumat yang memang termasuk hari-hari yang biasa ia berpuasa. Seperti orang yang berpuasa pada hari-hari putih (ayyāmul-bīḍ), atau yang memiliki kebiasaan berpuasa pada hari tertentu seperti hari Arafah atau Asyura. Demikian pula orang yang memiliki kewajiban puasa qadha dari Ramadan (maka tidak mengapa jika jatuh pada hari Jumat).

Teks Jawaban

  • Hukumnya Mengkhususkan Hari Jum’at Untuk Berpuasa Sunnah

Telah ada ketetapan dalam Ash-Shahihain dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

لا يَصُومَنَّ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِلا يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ  رواه البخاري (1849) ومسلم (1929)

“Janganlah salah seorang dari kalian berpuasa pada hari Jumat kecuali (ia berpuasa) sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.” (HR. Imam Bukhari no. 1849 dan Imam Muslim no. 1929)

Dan Imam Muslim juga meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, beliau bersabda:

لا تَخْتَصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِي وَلَا تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الْأَيَّامِ إِلا أَنْ يَكُونَ فِي صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ  (الصيام/1930).

“Janganlah kalian mengkhususkan malam Jumat dengan qiyam (shalat malam) di antara malam-malam yang lain, dan jangan pula mengkhususkan hari Jumat dengan puasa di antara hari-hari yang lain, kecuali jika itu bertepatan dengan puasa yang biasa dilakukan oleh salah seorang dari kalian.” (Kitab Ash-Shiyam, no. 1930)

Dan dalam Shahih disebutkan dari Juwairiyah bint Al-Harith radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- masuk menemuinya pada hari Jumat dalam keadaan ia sedang berpuasa. Maka beliau bertanya:

أَصُمْتِ أَمْسِ قَالَتْ لا قَالَ تُرِيدِينَ أَنْ تَصُومِي غَدًا  قَالَتْ لا قَالَ فَأَفْطِرِي وَقَالَ حَمَّادُ بْنُ الْجَعْدِ سَمِعَ قَتَادَةَ حَدَّثَنِي أَبُو أَيُّوبَ أَنَّ جُوَيْرِيَةَ حَدَّثَتْهُ فَأَمَرَهَا فَأَفْطَرَتْ  رواه البخاري (الصوم/1850

“Apakah engkau berpuasa kemarin?” Ia menjawab: “Tidak.” Beliau bertanya lagi: “Apakah engkau ingin berpuasa besok?” Ia menjawab: “Tidak.” Maka beliau bersabda: “Kalau begitu berbukalah (jangan berpuasa).”

Dan Hammād bin al-Ja‘d berkata: “Qatādah mendengar dari Abu Ayyub bahwa Juwairiyah menceritakan hal itu kepadanya, lalu Nabi memerintahkannya untuk berbuka, maka ia pun berbuka/membatalkan puasanya. (HR. Imam Bukhari, Kitab Ash-Shaum no. 1850)

Ibnu Qudamah berkata:

“Dimakruhkan mengkhususkan hari Jumat dengan puasa, kecuali jika hal itu bertepatan dengan puasa yang biasa ia lakukan. Seperti orang yang berpuasa sehari dan berbuka sehari (puasa Dawud), lalu hari puasanya bertepatan dengan hari Jumat. Atau orang yang terbiasa berpuasa pada awal bulan, atau akhir bulan, atau pertengahan bulan.” (Al-Mughni, jilid 3, hlm. 53)

Imam Nawawi berkata:

“Sahabat-sahabat kami (yakni ulama mazhab Syafi‘i) mengatakan: dimakruhkan mengkhususkan hari Jumat dengan puasa. Namun jika ia menyambungkannya dengan puasa sehari sebelumnya atau sesudahnya, atau bertepatan dengan kebiasaan puasanya — misalnya ia bernazar untuk berpuasa pada hari sembuhnya orang yang sakit, atau pada hari kedatangan Zaid selamanya, lalu ternyata bertepatan dengan hari Jumat — maka tidak dimakruhkan.” (Al-Majmū‘ Syarh al-Muhadzdzab, jilid 6, hlm. 479)

Ibnu Taimiyah -rahimahullah- berkata:

“Sesungguhnya sunnah telah menetapkan makruhnya mengkhususkan bulan Rajab dengan puasa, dan makruhnya mengkhususkan hari Jumat (dengan puasa).”
(Al-Fatawa al-Kubra, jilid 6, hlm. 180)

Dan Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata:

“Adapun hari Jumat, maka tidak disunnahkan berpuasa pada hari itu, dan dimakruhkan untuk mengkhususkan puasanya.” (Lihat Asy-Syarh al-Mumti‘, jilid 6, hlm. 465)

  • Kondisi Pengecualian dari Larangan Puasa Sunnah di Hari Jum’at

Dan dikecualikan dari larangan ini: orang yang berpuasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya, atau bertepatan dengan hari yang memang menjadi kebiasaannya untuk berpuasa, seperti orang yang berpuasa pada hari-hari putih (ayyām al-bīḍ), atau orang yang memiliki kebiasaan berpuasa pada hari tertentu seperti hari Arafah lalu ternyata bertepatan dengan hari Jumat. Dari hal ini juga dipahami bolehnya berpuasa bagi orang yang bernazar untuk berpuasa pada hari kedatangan Zaid misalnya, atau pada hari kesembuhan seseorang. Lihat kitab Fath al-Bari karya Ibnu Hajar al-Asqalani.

Demikian pula orang yang memiliki kewajiban puasa qadha (pengganti) Ramadan.

“Boleh bagi seorang Muslim untuk berpuasa pada hari Jum’at sebagai qadha’ dari puasa Ramadan, meskipun dilakukan secara tersendiri.” (Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah, jilid 10, hlm. 347)

Begitu juga apabila hari Asyura atau Arafah bertepatan dengan hari Jumat, maka ia tetap berpuasa, karena niatnya adalah puasa Asyura atau Arafah, bukan semata-mata hari Jumat.

Dan Allah-lah Yang memberi taufik.

Wallahu A’lam

Rujukan

Puasa Sunah

Refrensi

Syeikh Muhammad Sholih Al-Munajid

at email

Buletin

Daftarkan email Anda untuk menerima buletin dari situs Tanya Jawab Tentang islam

phone

Aplikasi Tanya Jawab Tentang Islam

Akses lebih cepat ke konten dan kemampuan menjelajah tanpa internet

download iosdownload android