Kehidupan Para Nabi

Pertanyaan 26117

Apakah para Rasul masih hidup, atau sudah wafat ?

Ketika Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- melakukan perjalanan mi‘raj, semua rasul shalat di belakang beliau di Masjid Al-Aqsa. Kemudian Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- naik ke setiap langit dan bertemu dengan sebagian rasul yang dikenal, yang tentu saja juga telah shalat di belakang beliau.

Bagaimana para rasul bisa berada di Masjid Al-Aqsa lalu setelah itu berada di langit? Atau apakah para rasul masih hidup, tetapi dengan cara yang berbeda dari kita?

Teks Jawaban

Segala puji hanya milik Allah, shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Rasulullah, wa ba'du:

Para Nabi ‘alaihimus shalātu was salām secara hukum dunia dianggap telah wafat. Allah Ta‘ala berfirman kepada penutup dan yang paling mulia di antara mereka:

إنك ميت وإنهم ميتون

الزمر / 30

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) akan mati dan mereka pun akan mati.” (QS. Az-Zumar: 30)

Namun di sisi Allah, mereka tetap hidup, karena jika para syahid saja hidup di sisi Allah, maka para Nabi tentu lebih tinggi derajatnya daripada para syahid tanpa keraguan. Lihat Fath al-Bari 6/444.

Telah sahih dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bahwa beliau bersabda:

الأنبياء أحياء في قبورهم يصلون رواه البزار وصححه الألباني في صحيح الجامع ( 2790 )

“Para Nabi itu hidup di dalam kubur mereka dan mereka melaksanakan shalat.” (Diriwayatkan oleh Al-Bazzar dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Sahih al-Jami’, no. 2790).

Shalat tersebut merupakan bentuk kenikmatan yang mereka rasakan, sebagaimana penghuni surga juga menikmati tasbih (dzikir).

Mereka berada di dalam kubur mereka, shalawat Allah dan salam-Nya atas mereka, kecuali Isa ‘alaihis salam, karena Allah telah mengangkatnya ke langit; sebagaimana Allah Ta‘ala berfirman:

وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِيناً - بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزاً حَكِيماً

النساء / 157-158

“Dan mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh adalah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka… dan mereka tidak membunuhnya dengan yakin. Bahkan Allah telah mengangkatnya kepada-Nya, dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa: 157–158)

Adapun shalat para Nabi di belakang Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- pada malam Isra’ Mi‘raj, maka mereka shalat di belakang beliau dengan ruh-ruh mereka, sementara jasad mereka tetap berada di kubur mereka. Dan demikian pula ketika Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- melihat para Nabi pada malam Mi‘raj di langit: beliau melihat Adam di langit pertama, Yahya dan Isa di langit kedua, Yusuf di langit ketiga, Idris di langit keempat, Harun di langit kelima, Musa di langit keenam, dan Ibrahim di langit ketujuh (atau sebaliknya). Hal itu karena beliau melihat ruh-ruh mereka dalam bentuk yang menyerupai jasad mereka.

Sebagian orang berkata: mungkin yang dilihat adalah jasad mereka yang dikuburkan di bumi, tetapi pendapat ini tidak kuat.

Namun Isa ‘alaihis salam naik ke langit dengan ruh dan jasadnya, dan demikian pula disebutkan tentang Idris ‘alaihis salam.

Adapun Ibrahim dan Musa serta selain mereka, maka mereka dimakamkan di bumi.

Dan al-Masih (Isa ‘alaihis salam) — shalawat Allah dan salam atas beliau dan seluruh para nabi — pasti akan turun ke bumi di menara putih di sebelah timur Damaskus, lalu beliau akan membunuh Dajjal, mematahkan salib, dan membunuh babi, sebagaimana telah ditetapkan di dalam hadits-hadits sahih.

Karena itu beliau berada di langit kedua, meskipun derajatnya lebih tinggi daripada Yusuf, Idris, dan Harun; sebab beliau akan turun kembali ke bumi sebelum hari kiamat, berbeda dengan para Nabi lainnya.

Adapun Adam berada di langit dunia karena ruh-ruh keturunan manusia diperlihatkan kepadanya: ruh orang-orang bahagia dan orang-orang celaka. Orang-orang celaka tidak dibukakan pintu langit dan tidak akan masuk surga sampai “unta masuk ke lubang jarum”. Maka wajar jika mereka diperlihatkan kepadanya dalam keadaan dekat dengan mereka.

Adapun shalat para Nabi di belakang Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- kemudian bertemu mereka lagi setelah beliau diangkat ke langit, tidak ada pertentangan di antara keduanya. Karena urusan ruh itu seperti urusan para malaikat: dalam hitungan sesaat saja bisa naik dan turun, tidak seperti jasad.

Sumber: Majmu‘ al-Fatawa karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah- (4/328–329), dengan sedikit penyesuaian.

Rujukan

Iman kepada para Rasul

Refrensi: 

Soal Jawab Tentang Islam

at email

Buletin

Daftarkan email Anda untuk menerima buletin dari situs Tanya Jawab Tentang islam

phone

Aplikasi Tanya Jawab Tentang Islam

Akses lebih cepat ke konten dan kemampuan menjelajah tanpa internet

download iosdownload android