Ahad 15 Sya'ban 1445 - 25 Pebruari 2024
Indonesian

Kapan Cinta Kepada Allah Dapat Menyelamatkan Dari Azab

Pertanyaan

Apakah orang yang mencintai Allah itu akan masuk ke dalam neraka. Banyak kalangan kafir seperti Yahudi dan Nashrani, mereka semua mencintai Allah begitu juga orang Islam yang fasik, mereka mencintai Allah. Tidak ada sama sekali yang mengatakan bahwa dia membenci Tuhannya. Apakah ada penjelasan tentang masalah ini?

Teks Jawaban

Alhamdulillah.

Ibnu Qayim rahimahullah ketika menjelaskan permasalahan ini, mengatakan, “Ada empat jenis cinta. Harus dibedakan di antara jenis tersebut. Sungguh ada orang yang tersesat jika tidak dapat membedakan di antara keduanya:

Salah satunya adalah kecintaan kepada Allah, tidak cukup hanya cinta semata yang dapat menyelamatkan dari siksaan Allah dan beruntung dengan mendapatkan pahalanya. Karena orang-orang musyrik dan penyembah salib, Yahudi dan selainnya semua mencintai Allah.

Kedua: Mencintai orang yang mencintai Allah. Ini yang menjadikan dia masuk ke dalam Islam dan mengeluarkannya dari kekufuran. Orang yang paling dicintainya karena Allah adalah orang yang paling kuat dan paling dekat dengan kecintaan ini.

Ketiga: Cinta karena Allah dan di dalam ajaran Allah. Ini merupakan konsekwensi dari mencintai apa yang Allah cintai. Mencintai apa yang dicintai Allah tidak akan terwujud sempurna kecuali dengan cinta karenanya dan di dalamnya ajaranNya. 

Keempat: Mencintai tuhan selain mencintai Allah. Inilah cinta syirik. Semua yang  mencintai sesuatu selain mencintai Allah, bukan karena Allah dan tidak mencari ridha-Nya, juga tidak di dalam ajaran-Nya, maka sungguh dia telah menjadikan selain Allah sebagai sekutunya. Ini termasuk cintanya orang-orang musyrik.

Tinggal satu macam lagi yang tidak kita bahas, yaitu cinta secara natural. Yaitu kecondongan seseorang pada sesuatu yang sesuai seleranya  seperti cinta seorang yang haus kepada air, cinta orang lapar dengan makanan, cinta tidur, istri dan anak. Perkara ini tidak dicela kecuali kalau hal itu dapat melalaikan seseorang dari mengingat Allah dan menghalanginya dari kecintaan-Nya. Sebagaimana firman Allah ta’ala:

يا أيها الذين آمنوا لا تلهكم أموالكم ولا أولادكم عن ذكر الله

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah.” (QS. Al-Munafiqun: 9)

Dan Firman-Nya:

 رجال لا تلهيهم تجارة ولا بيع عن ذكر الله

“laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah,” (QS. An-Nur: 37)

Al-Jawabul Kafi, (1/134).

Beliau rahimahullah mengatakan, “Perbedaan antara cinta karena Allah dan cinta  bersama Allah (maksudnya mencintai selain Allah seiring cintanya kepada Allah). Ini termasuk perbedaan yang penting, setiap orang butuh dan harus untuk mengetahui perbedaan antara keduanya. Cinta karena Allah adalah termasuk kesempurnaan iman, adapun cinta (sesuatu) bersama (cinta) kepada Allah, adalah syirik itu sendiri. Perbedaan keduanya adalah bahwa cinta karena Allah mengikuti cinta kepada Allah, kalau cinta lahir dari hati seorang hamba maka dia layak mendapatkan kecintaan itu. Dia akan mencintai apa yang dicintai Allah, kalau dia mencintai apa yang dicintai oleh Tuhan dan kekasihnya, maka itu berarti cinta untuk-Nya dan karena-Nya. Sebagaimana dia mencintai para rasul dan para Nabi, para Malaikat-Nya, dan para wali-Nya. Karena Allah mencintai mereka dan membenci orang yang mereka benci, karena Allah membenci mereka. Sementara tanda cinta dan benci karena Allah adalah bahwa bencinya kepada yang Allah benci  tidak berubah menjadi cinta  kepadanya hanya karena yang dibenci itu berbuat baik kepadanya, melayaninya atau memenuhi segala hajatnya. Begitupula, cintanya kepada yang Allah cintai tidak berubah menjadi benci hanya karena yang dia cintai dinilai melakukan sesuatu yang buruk kepadanya, apakah karena lupa, tidak senagaja, atau sedang berijtihad, taat, atau dia memiliki penafsiran dan ijtihad berbeda. Atau dia berbuat zalim, namun sudah dia tinggalkan

Karena kesalahan atau karena unsur kesengajaan. Taat karena Allah di dalamnya atau mentakwilkan atau berijtihad atau melampaui batas, melawan dan dalam kondisi bertaubat dan bertaubat.

Maka agama semua ini berputar sekitar empat kaidah cinta dan marah dan berdampak dari keduanya melakukan sesuatu dan meninggalkannya. Barang siapa yang cinta, marah dan perbuatan serta meninggalkan karena Allah, maka dia telah menyempurnakan keimanannya. Dimana kalau dia mencintai, mencintai karena Allah, dan kalau marah, dia marah karena Allah. kalau melakukan sesuatu, melakukan karena Allah. dan kalau meninggalkan sesuatu, dia meninggalkan karena Allah. dan tidak akan berkurang dari empat macam ini, melainkan akan berkurang keimanan dan agamanya sesuai dengan kondisinya.

Hal ini berbeda dengan cinta bersama Allah. Perkara ini ada dua macam;  Pertama perkara yang mencedarai tauhid yaitu perbuatan syirik. Satu lagi perkara yang mencederai kesempurnaan murninya kecintaan kepada Allah, namum hal ini tidak membuat seseorang keluar dari Islam.

Maka yang pertama, seperti kecintaan orang-orang musyrik kepada patung-patung mereka dan sekutu-sekutunya. Allah ta’ala berfirman:

ومن الناس من يتخذ من دون الله أندادا يحبونهم كحب الله

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)

Mereka orang-orang musyrik mencintai sesembahan dan patung-patungnya serta tuhan-tuhan mereka bersamaan dengan Allah sebagaimana mereka mencintai Allah. Maka kecintaan ini termasuk kecintaan penghambaan dan loyalitas yang diikuti oleh sikap takut (khauf) dan harap  (roja’) serta ibadah dan doa. Maka kecintaan ini termasuk perbuatan syirik itu sendiri yang tidak diampuni Allah. Iman tidak sempurna kecuali dengan sangat membenci kemusyrikan, juga membenci pelakunya,  memusuhinya dan memeranginya. Oleh karena itu Allah mengutus para Rasul dan menurunkan  kitab-kitab-Nya. Dia menciptakan neraka yang disediakan untuk pemilik cinta syirik ini, dan Dia menciptakan surga bagi orang yang memerangi pelakunya dan memusuhinya karena Allah dan dalam rangka menggapai ridha-Nya. Siapa saja yang menyembah sesuatu selain Allah, baik yang di Asry-Nya sampai yang ada di perut bumi, maka dia telah berbuat syirik kepada-Nya, apapun sesembahannya tersebut. Seharusnya kita berlepas diri darinya. Itu lebih dibutuhkan dari apapun.

Macam yang  kedua: Kecintaan yang Allah bekali bagi setiap jiwa, seperti cinta kepada  wanita, anak-anak, emas, perak, kuda yang dibuat tunggangan, hewan ternak, dan peternakan.  Ini adalah cinta syahwat,  seperti halnya cinta seorang yang lapar terhadap makanan, orang kehausan pada air.

Cinta model seperti ini ada tiga macam;

Kalau dia mencintainya karena Allah, dan sebagai sarana untuk sampai kepada-Nya serta sebagai alat yang membantunya  mendapatkan keridhaanNya dan ketaatan kepada-Nya, maka dia akan mendapatkan pahala dan bahkan termasuk bagian kecintaan karena Allah agar sampai kepada-Nya, merasakan kelezatan dengan menikmatinya. Ini kondisi makhluk yang paling sempurna, dia dijadikan senang  terhadap wanita, wewangian, yang keduanya dapat menolongnya dalam rangka menggapai cinta Allah, menyampaikan risalah-Nya serta melaksanaan perintah-Nya.

Kalau dia mencintai sesuatu  karena cocok dengan seleranya dan syahwat serta keinginannya namun tidak melebihi dari apa yang dicintai dan diridhai Allah, semata karena kecondongan hati secara natural, maka ini termasuk perkara mubah, dia tidak disiksa karena hal itu, akan tetapi dapat mengurangi kesempurnaan cinta kepada Allah dan cinta di dalamnya.

Kalau (kecintaan) itu adalah tujuan utamanya dan keinginan yang dia ingin meraihnya untuk mendapatkan dan bahagia dengannya serta lebih didahulukan dibandingkan dari apa yang dicintai dan diredai Allah, maka dia termasuk berbuat zalim pada dirinya dan mengikuti hawa nafsunya.

Maka yang pertama adalah cinta orang-orang mulia, sementara kedua adalah cinta  orang pertengahan, sedangkan yang ketiga adalah cinta orang-orang zalim.” (Ar-Ruh karangan Ibnu Qoyyim,(1/254)

Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad.

Wallahua’lam

Refrensi: Syeikh Muhammad Sholih Al-Munajid