Pertama.
Kita harus mengetahui bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengabarkan bahwa umat ini akan terpecah.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ - أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : تَفَرَّقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ أَوْ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، وَالنَّصَارَى مِثْلَ ذَلِكَ، وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ ، وَفِي رِوَايَةِ ابْنِ مَاجَه (٣٩٩٣) مِنْ حَدِيثِ أَنَسٍ : كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا وَاحِدَةً
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Kaum Yahudi terpecah menjadi tujuh puluh satu atau tujuh puluh dua golongan, kaum Nasrani juga demikian, dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan." Dalam riwayat Ibnu Majah (no. 3993) dari hadis Anas disebutkan, “Semuanya di neraka kecuali satu.” (HR. At-Tirmidzi, no. 2640). Abu Isa Al-Tirmidzi berkata, “Hadis Abu Hurairah adalah hadis hasan sahih.” Dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah (no. 3227).
Jika hal ini telah diketahui, maka kelompok yang selamat (Al-Firqah An-Najiyah) dan golongan yang ditolong (At-Tha'ifah Al-Manshurah) hanyalah satu, yaitu yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah secara lahir maupun batin.
Kedua.
Pengklaim ketuhanan lebih kafir daripada kaum musyrik Arab sebelum Islam yang kepada mereka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diutus. Kaum musyrik di zaman Jahiliyah meyakini bahwa Allah adalah Sang Pencipta, Pemberi rezeki, Yang Menghidupkan, dan Yang Mematikan. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُوْلُنَّ اللهُ
لقمان / 25
“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ tentu mereka akan menjawab, ‘Allah.’” (QS. Luqman: 25).
Meski demikian, Allah tidak mengangkat status syirik dan kufur dari mereka karena mereka mengingkari Tauhid Ubudiyah (mengesakan Allah dalam ibadah). Mereka bersujud dan menyembelih untuk selain Allah. Mereka menyekutukan berhala dan patung dalam ibadah mereka dan menganggap hal itu bisa memberi manfaat atau mudarat selain Allah. Oleh karena itu, Allah berfirman menceritakan ucapan mereka,
أَجَعَلَ الآلِهَةَ إِلَهاً وَاحِداً إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَاب
ص / 5
"Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan." (QS. Sad: 5).
Allah juga berfirman,
وَالَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُوْنَا إِلَى اللهِ زُلْفَى
الزمر / 3
“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.’” (QS. Az-Zumar: 3).
Ini menunjukkan bahwa kaum musyrik Arab lebih ringan kekafirannya dibandingkan mereka yang disebut oleh penanya, karena musyrik Arab mengakui Tauhid Rububiyah, sedangkan mereka ini mengingkarinya.
Ketiga.
Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyanggah syubhat para pengklaim ketuhanan di dalam Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman,
لَوْ كَانَ فِيْهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا الله لَفَسَدَتَا
الأنبياء / 21
“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa.” (QS. Al-Anbiya’: 22).
Allah Tabaraka wa Ta’ala juga berfirman,
مَا اتَّخَذَ اللهُ مِنْ وَلَدٍ وَمَا كَانَ مَعَهُ مِنْ إِلَهٍ إِذًا لَذَهَبَ كُلُّ إِلَهٍ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ سُبْحَانَ اللهِ عَمَّا يَصِفُونَ
المؤمنون / 91
“Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu." (QS. Al-Mu’minun: 91).
Dalam kisah perdebatan Ibrahim ‘Alaihis Salam dengan pengklaim ketuhanan terdapat metode terbaik untuk berhujah. Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
( البقرة / 258).
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan. Ketika Ibrahim mengatakan, ‘Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,’ orang itu berkata, ‘Saya dapat menghidupkan dan mematikan.’ Ibrahim berkata, ‘Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,’ lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." (QS. Al-Baqarah: 258).
Gunakanlah metode ini. Katakan kepada para pengklaim ketuhanan itu, “Jika apa yang kalian katakan benar, maka terbitkanlah matahari dari barat, atau hidupkanlah orang mati, atau turunkanlah hujan dari langit, atau tumbuhkanlah tanaman dari bumi.”
Keempat.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengabarkan bahwa Dajjal yang akan keluar di akhir zaman akan mengaku sebagai Tuhan. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memberi kita tanda untuk membuktikan kebatilan klaimnya, yaitu bahwa Dajjal itu buta sebelah mata kanannya.
فَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمَا قَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي النَّاسِ فَأَثْنَى عَلَى اللهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ ذَكَرَ الدَّجَّالَ فَقَالَ : إِنِّي لَأُنْذِرُكُمُوهُ وَمَا مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا أَنْذَرَهُ قَوْمَهُ لَقَدْ أَنْذَرَ نُوحٌ قَوْمَهُ وَلَكِنِّي أَقُولُ لَكُمْ فِيهِ قَوْلًا لَمْ يَقُلْهُ نَبِيٌّ لِقَوْمِهِ تَعْلَمُونَ أَنَّهُ أَعْوَرُ وَأَنَّ اللهَ لَيْسَ بِأَعْوَرَ . رواه البخاري (2892) ، ومسلم (169).
Diriwayatkan dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdiri di hadapan orang banyak lalu memuji Allah dengan pujian yang layak bagi-Nya, kemudian menyebut tentang Dajjal, “Sungguh aku memperingatkan kalian darinya. Tidak ada seorang Nabi pun melainkan telah memperingatkan kaumnya. Nuh telah memperingatkan kaumnya, namun aku akan sampaikan satu perkataan yang belum pernah disampaikan nabi lain kepada kaumnya. Ketahuilah bahwa ia (Dajjal) itu buta sebelah matanya, sedangkan Allah tidaklah buta sebelah.” (HR. Al-Bukhari, no. 2892 dan Muslim, no. 169).
Ini adalah tanda yang nyata bagi setiap orang yang melihatnya. Jika Dajjal adalah Tuhan yang menciptakan alam semesta yang indah ini, tentu ia mampu menghilangkan keburukan dan kebutaan dari dirinya sendiri. Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menciptakan alam dan manusia dengan keserasian dan kesempurnaan yang menakjubkan ini, pastilah memiliki kesempurnaan mutlak tanpa ada kekurangan sedikitpun.
Sedangkan mereka yang mengaku Tuhan ini, tanda-tanda kekurangan nampak jelas pada mereka, mulai dari tidur, sakit, rasa sakit, terganggu oleh panas dan dingin, butuh makan dan minum, bahkan salah satu dari mereka membawa kotoran di dalam perutnya dan perlu masuk ke toilet sekali atau dua kali sehari! Apakah mereka layak menjadi Tuhan? Maha Suci Engkau (ya Allah), ini adalah kedustaan yang besar. Bukanlah hal yang aneh jika ada yang mengaku demikian, namun yang sangat mengherankan adalah adanya pengikut yang menyetujui ucapan mereka.
Kelima.
Seorang Muslim harus mengetahui bahwa kelompok-kelompok seperti yang disebutkan, juga Qadiani, Baha’i, dan kelompok sesat lainnya, tidaklah dimunculkan kecuali untuk memerangi Islam dan menjauhkan pemeluknya dari agama tersebut. Menjelaskan kesesatan dan kepalsuan mereka tidak memerlukan upaya besar karena kebatilannya sangat nyata. Seorang Muslim harus waspada dan memperingatkan Muslim lainnya dari kelompok-kelompok sesat ini.
Keenam.
Adapun untuk menyanggah agama Nasrani, tidak memerlukan usaha besar. Cukuplah bantahan dari Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah dalam syairnya:
Wahai penyembah Al-Masih, kami punya pertanyaan
Kami butuh jawaban dari orang yang memahaminya
Jika Tuhan mati karena perbuatan suatu kaum
Yang mematikannya, maka Tuhan macam apa ini?
Apakah Ia ridha dengan apa yang mereka lakukan terhadap-Nya?
Jika ya, maka selamat bagi mereka karena mendapat keridhaan-Nya
Namun jika Ia murka atas apa yang mereka perbuat
Berarti kekuatan mereka telah mengalahkan kekuatan-Nya
Lalu apakah alam semesta ini tersisa tanpa Tuhan
Yang Maha Mendengar dan mengabulkan doa?
Apakah tujuh lapis langit menjadi kosong
Saat Ia terbaring di bawah tanah tertutup debu?
Apakah seluruh alam ini kosong dari Tuhan yang mengatur
Padahal kedua tangan-Nya sedang dipaku?
Dan bagaimana para malaikat membiarkan-Nya
Tanpa menolong, padahal mereka mendengar tangisan-Nya?
Bagaimana kayu salib sanggup memikul
Tuhan yang sebenarnya, yang terikat di atasnya?
Bagaimana besi bisa mendekat kepada-Nya
Hingga melukai dan menyakiti-Nya?
Bagaimana tangan-tangan musuh mampu menjangkau
Dan memanjangkan tangan hingga menampar tengkuk-Nya?
Apakah Al-Masih kembali hidup dengan sendirinya
Ataukah ada Tuhan lain yang menghidupkan-Nya?
Sungguh aneh sebuah kubur yang memuat Tuhan
Dan lebih aneh lagi rahim yang mengandung-Nya
Ia tinggal di sana selama sembilan bulan
Di dalam kegelapan, makan dari darah haid
Lalu keluar melalui lubang kemaluan sebagai bayi kecil
Yang lemah, dengan mulut mencari puting susu
Ia makan, minum, lalu mengeluarkan (kotoran)
Sesuai konsekuensi hal itu, inikah Tuhan?
Maha Suci Allah dari kedustaan kaum Nasrani
Mereka semua akan ditanya atas apa yang mereka ada-adakan.
Wahai penyembah salib, karena alasan apa
Ia diagungkan, atau dianggap buruk orang yang membuangnya?
Bukankah akal sehat menuntutnya untuk dihancurkan
Dan dibakar, bersama mereka yang mengada-adakannya?
Jika Tuhan dipaksa naik di atasnya
Dengan tangan-tangan yang dipaku kencang
Maka kayu itu benar-benar terkutuk
Maka injaklah ia, jangan kau cium saat melihatnya
Sebab di sanalah Tuhan seluruh makhluk dihina
Namun kau malah menyembahnya? Berarti kau termasuk musuhnya.
Jika kau mengagungkannya karena alasan
Ia pernah memuat Tuhan alam semesta
Namun salib itu telah hilang, lalu jika kita melihat
Bentuknya saja, kita teringat akan kemuliaannya
Maka mengapa kau tidak bersujud saja pada semua kuburan?
Karena kuburan pun pernah memuat Tuhanmu di dalamnya.
Wahai penyembah Al-Masih, sadarlah
Karena inilah awal dan akhirnya.
(Ighatsatu Al-Lahfan, 2/291)
Wallahu A’lam.